Latest News

Indonesia Truly Atlantis

INDONESIA TRULY ATLANTIS
INDONESIA TRULY ATLANTIS
xmagazine---Ingat iklan pariwisata Malaysia yang cantik itu ? Malaysia, Truly Asia…

Banyak orang kita yang sebal melihat iklan yang bagus itu, karena banyak hal-hal yang digambarkan dalam iklan itu sebenarnya lebih banyak dijumpai di pelbagai wilayah Indonesia dari pada di Malaysia. Bahkan lebih dari itu!Yah, kita selalu ‘keduluan’ oleh mereka.

Hal lain yang menyebalkan menyangkut negeri tercinta ini adalah manakala ada yang mengatakan bahwa banyak orang di Amerika atau di luar negeri yang tidak mengenal Indonesia. Katanya, mereka tahu Bali, tapi Indonesia itu dimana?...., ‘konon tanya mereka’.

Tapi perkembangan terbaru sebenarnya sangat berbeda; mempromosikan Indonesia akhir-akhir ini mestinya ibarat mendayung perahu ke hilir, yang didorong arus sungai dari belakang. Banyak kemudahan yang didapat secara gratis.

Atau bisa juga di ibaratkan, mendorong mobil di jalan yang menurun. Tinggal dorong dengan jari telunjuk, langsung meluncur dengan cepat. Kenapa bisa begitu? Kenapa Indonesia bisa mendunia?

Sekali lagi bukan karena banyaknya bencana alam atau huru-hara. Apalagi teroris. Hal ini dapat terjadi terutama karena ulah Prof. Arysio N. dos Santos yang menerbitkan buku yang menggemparkan : “Atlantis the Lost Continents Finally Found”.

Di buku phenomenal hasil penelitian saintis asal Brazil itu secara tegas menyatakan bahwa; Atlantis negeri eden nan penuh misteri yang hilang itu sudah ditemukan. Benua bernuansa dongeng yang pertama kali di ucapkan Plato tersebut, menurut Arsio Santos itu ternyata Indonesia!

Selama ini, benua yang diceritakan Plato 2.500 tahun yang lalu itu adalah benua yang dihuni oleh bangsa Atlantis yang memiliki peradaban yang sangat tinggi dengan alamnya yang sangat kaya, yang kemudian hilang tenggelam ke dasar laut oleh bencana banjir dan gempa bumi sebagai hukuman dari para Dewa.

Kisah Atlantis ini dibahas dari masa ke masa, dan upaya penelusuran terus pula dilakukan, guna menemukan sisa-sisa peradaban tinggi yang telah dicapai oleh bangsa Atlantis pada masa itu.

Pencarian dilakukan di samudera Atlantik, Laut Tengah, Caribea, sampai ke kutub Utara. Pencarian ini sama sekali tidak ada hasilnya, sehingga sebagian orang beranggapan bahwa yang diceritakan Plato itu hanyalah negeri dongeng semata. Atau misteri yang abadi.

Profesor Santos yang ahli Fisika Nuklir ini menyatakan bahwa Atlantis tidak pernah ditemukan karena dicari di tempat yang salah.

Lokasi yang benar secara menyakinkan adalah Indonesia, katanya. Dia mengatakan, bahwa ia sudah meneliti kemungkinan lokasi Atlantis selama 29 tahun terakhir ini.

Ilmu yang digunakan Santos dalam menelusur lokasi Atlantis ini adalah ilmu Geologi, Astronomi, Paleontologi, Archeologi, Linguistik, Ethnologi, dan Comparative Mythology.

Yang jelas, Santos telah di untung oleh penemuan versi nya ini. Bahkan, beberapa waktu lalu, dalam sebuah situs disebut bahwa bukunya saat ditanya di ‘Amazon.com’ pernah habis tidak bersisa. Bukunya ini terlink ke 400 buah situs di Internet, dan websitenya sendiri menurut Santos telah dikunjungi sebanyak 2.500.000 visits. Bahkan terus bertambah.

Indonesia sendiri, sebagai objek penelitian Santos sebenarnya juga dapat diuntungkan dalam hal tersebut. Ini adalah iklan gratis untuk mengenalkan Indonesia secara efektif ke dunia luar, yang tidak memerlukan dana besar.

Sebagaimana dapat diikuti dari websitenya, Plato menulis tentang Atlantis pada masa dimana Yunani masih menjadi pusat kebudayaan Dunia Barat (Western World).

Sampai saat ini belum dapat dideteksi apakah sang ahli falsafah ini hanya menceritakan sebuah mitos, moral fable, science fiction, ataukah sebenarnya dia menceritakan sebuah kisah sejarah. Ataukah pula dia menjelaskan sebuah fakta secara jujur bahwa Atlantis adalah sebuah realitas absolut ?
Plato bercerita bahwa Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dan ‘mother of all civilazation’ dengan kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.
Warga Atlantis yang semula merupakan orang-orang terhormat dan kaya, kemudian berubah menjadi ambisius. Para dewa kemudian menghukum mereka dengan mendatangkan banjir, letusan gunung berapi, dan gempa bumi yang sedemikian dahsyatnya sehingga menenggelamkan seluruh benua itu.

Kisah-kisah sejenis atau mirip kisah Atlantis ini yang berakhir dengan bencana banjir dan gempa bumi, ternyata juga ditemui dalam kisah-kisah sakral tradisional di berbagai bagian dunia, yang diceritakan dalam bahasa setempat.

Menurut Santos, ukuran waktu yang diberikan Plato 11.600 tahun BP (Before Present), secara tepat bersamaan dengan berakhirnya Zaman Es Pleistocene, yang juga menimbulkan bencana banjir dan gempa yang sangat hebat.

Bencana ini menyebabkan punahnya 70% dari species mamalia yang hidup saat itu, termasuk kemungkinan juga dua species manusia : Neandertal dan Cro-Magnon.

Sebelum terjadinya bencana banjir itu, pulau Sumatera, pulau Jawa, Kalimantan dan Nusa Tenggara masih menyatu dengan semenanjung Malaysia dan benua Asia.

Sulawesi, Maluku dan Irian masih menyatu dengan benua Australia dan terpisah dengan Sumatera dan lain-lain itu. Kedua kelompok pulau ini dipisahkan oleh sebuah selat yang mengikuti garis 'Wallace'.

Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.

Gunung utama yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.

Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa.

Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan.

Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene) .

Abu ini kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut. Gletser di kutub Utara dan Eropa kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.

Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam dibawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi. Lihat Gambar 1.

Tekanan air yang besar ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi selanjutnya dan gempa bumi yang dahsyat.. Akibatnya adalah berakhirnya Zaman Es Pleitocene secara dramatis.
Dalam bukunya Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarang.

Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di katulistiwa.

Plato juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu “….lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…”. Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan.

Menurut Profesor Santos, para ahli yang umumnya berasal dari Barat, berkeyakinan teguh bahwa peradaban manusia berasal dari dunia mereka. Tapi realitas menunjukkan bahwa Atlantis berada di bawah perairan Indonesia dan bukan di tempat lain.

Santos telah menduga hal ini lebih dari 20 tahunan yang lalu sewaktu dia mencermati tradisi-tradisi suci dari Junani, Roma, Mesir, Mesopotamia, Phoenicia, Amerindian, Hindu, Budha, dan Judeo-Christian.

Walau dikisahkan dalam bahasa mereka masing-masing, ternyata istilah-istilah yang digunakan banyak yang merujuk ke hal atau kejadian yang sama.
Santos menyimpulkan bahwa penduduk Atlantis terdiri dari beberapa suku/etnis, dimana 2 buah suku terbesar adalah Aryan dan Dravidas.
Semua suku bangsa ini sebelumya berasal dari Afrika 3 juta tahun yang lalu, yang kemudian menyebar ke seluruh Eurasia dan ke Timur sampai Auatralia lebih kurang 1 juta tahun yang lalu.

Di Indonesia mereka menemukan kondisi alam yang ideal untuk berkembang, yang menumbuhkan pengetahuan tentang pertanian serta peradaban secara menyeluruh. Ini terjadi pada zaman Pleistocene.

Pada Zaman Es itu, Atlantis adalah surga tropis dengan padang-padang yang indah, gunung, batu-batu mulia, metal berbagai jenis, parfum, sungai, danau, saluran irigasi, pertanian yang sangat produktif, istana emas dengan dinding-dinding perak, gajah, dan bermacam hewan liar lainnya. Menurut Santos, hanya Indonesialah yang sekaya ini (!).

Ketika bencana yang diceritakan diatas terjadi, dimana air laut naik setinggi kira-kira 130 meter, penduduk Atlantis yang selamat terpaksa keluar dan pindah ke India, Asia Tenggara, China, Polynesia, dan Amerika.

Suku Aryan yang bermigrasi ke India mula-mula pindah dan menetap di lembah Indus. Karena glacier Himalaya juga mencair dan menimbulkan banjir di lembah Indus, mereka bermigrasi lebih lanjut ke Mesir, Mesopotamia, Palestin, Afrika Utara, dan Asia Utara.

Di tempat-tempat baru ini mereka kemudian berupaya mengembangkan kembali budaya Atlantis yang merupakan akar budaya mereka.

Catatan terbaik dari tenggelamnya benua Atlantis ini dicatat di India melalui tradisi-tradisi suci di daerah seperti Lanka, Kumari Kandan, Tripura, dan lain-lain. Mereka adalah pewaris dari budaya yang tenggelam tersebut.  Suku Dravidas yang berkulit lebih gelap tetap tinggal di Indonesia.

Migrasi besar-besaran ini dapat menjelaskan timbulnya secara tiba-tiba atau seketika teknologi maju seperti pertanian, pengolahan batu mulia, metalurgi, agama, dan diatas semuanya adalah bahasa dan abjad di seluruh dunia selama masa yang disebut Neolithic Revolution.

Bahasa-bahasa dapat ditelusur berasal dari Sansekerta dan Dravida. Karenanya bahasa-bahasa di dunia sangat maju dipandang dari gramatika dan semantik.

Contohnya adalah abjad. Semua abjad menunjukkan adanya “sidik jari” dari India yang pada masa itu merupakan bagian yang integral dari Indonesia.

Dari Indonesialah lahir bibit-bibit peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan lain-lain.

Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip. Nama Atlantis diberbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain.

Itulah ringkasan teori Profesor Santos yang ingin membuktikan bahwa benua atlantis yang hilang itu sebenarnya berada di Indonesia.
Bukti-bukti yang menguatkan Indonesia sebagai Atlantis, dibandingkan dengan lokasi alternative lainnya disimpulkan Profesor Santos dalam suatu matrix yang disebutnya sebagai ‘Checklist’.

Terlepas dari benar atau tidaknya teori ini, atau dapat dibuktikannya atau tidak kelak keberadaan Atlantis di bawah laut di Indonesia, teori Profesor Santos ini sampai saat ini ternyata mampu menarik perhatian orang-orang luar ke Indonesia.

Teori ini juga disusun dengan argumentasi atau hujjah yang cukup jelas. 

Kalau ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai nenek moyang dari bangsa-bangsa maju yang diturunkannya itu, maka ini adalah suatu proses maju atau mundurnya peradaban yang memakan waktu lebih dari sepuluh ribu tahun.

Contoh kecilnya, ya perbandingan yang sangat populer tentang orang Malaysia dan Indonesia; dimana 30 tahunan yang lalu mereka masih belajar dari kita, dan sekarang mereka relatif berada di depan kita.

Profesor Santos akan terus melakukan penelitian lapangan lebih lanjut guna membuktikan teorinya. Kemajuan teknologi masa kini seperti satelit yang mampu memetakan dasar lautan, kapal selam mini untuk penelitian (sebagaimana yang digunakan untuk menemukan kapal ‘Titanic’), dan beragam peralatan canggih lainnya diharapkannya akan mampu membantu mencari bukti-bukti pendukung yang kini diduga masih tersembunyi di dasar laut di Indonesia.

Apa yang dapat dilakukan oleh pemerintah dan bangsa Indonesia ?

Bagaimana pula pakar Indonesia dari berbagai disiplin keilmuan menanggapi teori yang sebenarnya “mengangkat” Indonesia ke posisi sangat terhormat : sebagai asal usul peradaban bangsa-bangsa seluruh dunia ini? Dan akan membuat Indonesia menjadi perhatian dunia!

Apatis
Rata-rata para pakar Indonesia malah cenderung tidak mau atau belum mau mempercayai hal tersebut. Beberapa diantaranya, menyatakan perlu pembuktian lebih lanjut. Bahkan sebagian dari masyarakat Indonesia kemungkinan besar cenderung mencemooh penemuan tersebut.

Demikian juga dengan pemerintah Indonesia, belum ada tanda-tanda menyambut baik dan memanfaatkan moment tersebut. Apalagi melakukan langkah-langkah nyata menjadikan Atlantis sebagai icon Indonesia yang kemudian mengklaim hal tersebut.

Atau minimal mencoba merenung penyebab Atlantis dulu hancur: penduduk cerdas terhormat yang berubah menjadi ambisius serta berbagai kelakuan buruk lainnya (mungkin ‘korupsi’ salah satunya seperti sekarang ini. Nah, salah-salah Indonesia sang “mantan Atlantis” ini bakal kena hukuman lagi nanti, kalau tidak mau berubah seperti yang ditampakkan bangsa ini secara terang-terangan sekarang ini.

Khususnya bagi warga Minang atau Sumatera Barat, ada juga ‘utak-atik’ yang bisa dilakukan.

Santos mengatakan berdasarkan penelitiannya bahwa berbagai kisah tentang negara bak ‘surga’ yang kemudian menjadi hilang, bencana banjir besar, letusan gunung berapi, dan gempa dahsyat ditemui pada kisah-kisah berbagai bangsa di seluruh dunia. Kisah ini mirip satu dengan lainnya.

Apa pula kata Tambo Minangkabau tentang ranah Minang zaman dulu?“….Pada maso sabalun babalun balun, urang balun pinangpun balun, samaso tanah ameh ko sabingkah jo Simananjuang, kok gunuang baru sabingkah batu, tanah darek balun lai leba……, lah timbua gunung Marapi” (Pada masa serba belum, orang belum pinangpun belum, semasa tanah emas ini masih menyatu dengan Semenanjung, gunung baru sebingkah batu, tanah daratan belum lebar, sudah timbul gunung Merapi).
Ada lagi “…waktu bumi basintak naiak, lauik basintak turun…” (Sewaktu daratan bergerak naik, laut bergerak turun). ‘………Samaso tanah ameh sabingkah jo Simananjuang’ , ini adalah masa sewaktu Atlantis masih exist.

Konon kabarnya pula, sejumlah menhir yang berjumlah 800an buah di Mahat posisinya menghadap kearah matahari terbit, atau kearah Timur. Arah Timur dari Mahat adalah arah lokasi Atlantis versi Santos yang tenggelam oleh tsunami, banjir, letusan gunung berapi dan gempa bumi.
Pulau Sumaterapun ternyata tertulis dalam kisah Atlantis, yang disebut sebagai Taprobane.
Dulu Taprobane ini diartikan sebagai Ceylon, tapi kalau melihat ukuran besarnya tidak syak lagi bahwa Taprobane adalah Sumatera yang dikisahkan kaya dengan emas, batuan mulia, dan beragam binatang termasuk gajah. Itulah kira-kira teori Santos secara sangat ringkas.

Bagi yang berminat untuk membaca lebih jelas, dapat langsung ke website Profesor Santos http://atlan. org/ atau membeli bukunya yang kemungkinan besar telah dicetak ulang oleh penerbit ‘Amazon.com’.

Potensi Indonesia
Jelas sudah bangsa Indonesia jauh lebih hebat dibandingkan bangsa Yahudi, Arab, Eropa dan semua bangsa karena alasan inilah Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam warna kulit dan amat sangat besar. Dimana jika bersatu dan mampu memanfaatkan setiap potensi yang ada, baik sumber daya alam maupun berbagai warisan budaya, seni dan lainnya, maka sangat ditakuti dan menjadi super power dunia.

Sejarah mencatat, nenek moyang Indonesia atau nusantara ini, jauh sebelumnya pernah mencapai masa kejayaannya. Selain situs-situs prasejarah yang banyak ditemui, juga terdapat bukti nyata dan tercatat sebagai salah satu ke ajaiban dunia adalah candi borobudur.
Masihkah masyarakat Indonesia tidak mau mempercayainya?
Note Xmagazine:
Dunia adalah alam dongeng dan impian. Dimana segala sesuatunya dapat menjadi kenyataan jika ada keyakinan. Dan Nusantara, atau saat ini di sebut sebagai Indonesia, pendudukanya adalah manusia yang mampu melampaui berbagai ketidak mungkinan. Bahkan mampu melawan logika manusia.

Diberbagai negara maju, beberapa dekade ini, menyatakan bahwa telah mampu membuat penemuan-penemuan baru secara saintis. Neotech, quantum teleporter, dan lainnya.

Neotech, bagi Indonesia adalah ilmu ‘klenik’ yang pernah dimiliki oleh para leluhur bangsa ini. Dan saat ini cenderung telah ditinggalkan. Bahkan, bagi bangsa Indonesia, beberapa ketidak mungkinan secara logika-bagi bangsa Barat, adalah kebudayaan dan semacam permainan yang menghibur.

Sebut saja salah satu contohnya, seni kebudyaan ‘debus’, kebal senjata tajam, kulit atau anggota tubuh yang mempu ditembus benda tajam dan tidak menimbulkan luka. Bagi bangsa luar yang merupakan hal tidak mungkin secara logika, bagi Indonesia adalah biasa.

Quantum teleporter, bagi bangsa-bangsa maju dan dinyatakan temuan baru. Bagi bangsa Indonesia itu adalah memindahkan benda atau sesuatu ketempat lain tanpa di sentuh. Lalu masyarakat Indonesia bisa saja menyebutnya semacam ‘santet’.

Kencendrungan bagi sebagian besar masyarakat bangsa Indonesia adalah belajar dan berkiblat dengan bangsa lain. Berpikir dan meyakini bahwa bangsa lain lebih hebat dari bangsanya sendiri. Berupaya penuh untuk meniru dalam banyak hal.

Kecendrungan  ini telah terjadi sejak lama sekali. Sehingga secara perlahan Bangsa besar dengan wilayah yang besar tersebut secara perlahan kehilangan jadi diri sendiri.

Bangsa Indonesia seolah mengadopsi ilmu demokrasi dari luar. Padahal, sejatinya, demokrasi telah ada jauh sebelum bangsa luar memahaminya. Hal ini  terbukti dengan tumbuhnya berbagai macam agama-agama dan besar di Nusantara.

Indonesia kaya dengan budaya dan aneka ragam pemikiran. Indonesia telah bebas berpikir dan menentukan cara berpikir jauh-jauh sebelumnya.  Indonesia adalah Pancasila.

Namun, kemudian, mayoritas dari masyrakat bangsa Indonesia saat ini, tidak berani bermimpi. Dan cenderung kehilangan keyakinan sebagai bangsa yang mampu menerobos ketidak mungkinan bagi bangsa lain dan mungkin bagi bangsa Indonesia. Jati diri Indonesia. Bahkan malah merasa rendah diri atau tidak percaya diri.

Indonesia Truly Atlantis
Teori dan hasil penemuan Santos, mungkin ada benarnya jika merujuk pada jati diri bangsa Indonesia yang sebenarnya. Atau jika pun itu hanya dongeng Plato yang kemudian oleh profesor asal Brazil itu dikait-kaitkan dengan Nusantara dan kemudian di cari pembenarannya, apakah akan timbul persoalan?

Yang jelas Indonesia sebenarnya bisa sangat diuntungkan oleh hal tersebut. Mata dunia bisa saja akan tertuju kepada Indonesia. Bisa mengakui atau tidak.

Namun Indonesia bisa melakukan ‘klaim’ dan menjadikan Atlantis sebagai icon promo berbiaya murah. Seperti bagaimana negara luar menjual sejuta misteri “Segi Tiga Bermuda” atau lainnya.

Atau seperti klaim yang dilakukan negeri tetangga kita,  Malaysia, Truly Asia…  negeri serumpun yang seringkali selangkah lebih cepat dari Indonesia. Dan sayangnya bagi bangsa Malaysia, Santos tidak melakukan penelitian dan mencari pembenaran teorinya di sana.

Mungkin saja Atlantis adalah dongeng atau mimpi. Namun Indonesia sebenarnya mampu membuat mimpi itu menjadi kenyataan dengan kekayaan alam dan keanekaragamannya. Disisi lain, bukankah jati diri bangsa Indonesia adalah mampu menerobos hal yang tidak mungkin?

Artinya, negeri mimpi Plato yang dicari pembenarannya oleh Santos di Indonesia tersebut adalah hal yang sangat mungkin diwujud menjadi nyata di republik ini.  

Saat ini maukah Indonesia melangkah dengan keyakinannya? Atau mungkin, adakah, perusahaan penerbangan, daerah, kota, pulau, yang akan memulai dengan iklan: INDONESIA, Truly Atlantis...

Link terkait
http://www.atlan.org/copyright/
http://kadaikopi.com/?p=1668

4 Responses to "Indonesia Truly Atlantis"

  1. Mesti itu.. yang jelas memupuk kebanggaan dulu..biasanya masyarakat internasional ketawa mendengar statement Indonesia a truely Atlantis. Kebanyakan bertanya balik setengah ngejek.. Ah..yang bener..orang atlantis kan pinter-pinter..
    haha...
    Tapi itu pendapat orang kebanyakan yang gak ngikutin poerkemboangan Djaman. Newtech,(ilmu pengetahuan baru berbasis Quantum) nyata-nyata mengacak-acak basis fisika modern dengan pembuktian-pembuktian sains yang menghasilkan suatu akibat/subjek yang sama namun proses dan dasar hukum nya jauh dari pakem fisik. Dan menariknya Platform dari NEWTECH adalah MetaFisika. Atau yang lebih di kenal dengan Supranatural. Tekhnologi Terapan yang tidak lagi menggunakan alat dan gatget2 njelimet untuk mempermudah sesuatu. Kiblat nya kemana kira2 kalo tidak ke indonesia..? Sesuatu yang sudah akan kita tinggalkan dan di anggap kuno malah menjadi ilmu pengetahuan baru bagi profesor2 dan Ilmuan2 pinter di seberang benua arah barat dari indonesia. Kan terlalu..hehe...
    Terbaru, penggalian situs gunung padang oleh team arkeologi indonesia menemukan batuan tegak di beberapa titik penggalian. Sketsa radiogram memperlihatkan bongkah piramida berundak ekstra besar membentuk gunung itu.. Cuma peradaban besar dengan tekhnologi canggih dapat membuat struktur2 bangunan megalitik ekstra besar seperti itu.. eropa cuma bisa bikin kastil, nenek moyang indonesia malah bikin gunung...ntar tambah lagi bacod nya gan....hehehe..mikir dulu..

    BalasHapus
  2. Hmmm.... Biarkan saja mau bilang apalah ttg negeriku tercinta (indonesia) kalau memang benar adanya atlantis di indo itu fakta yg jelas peleburan besi akan di adakan di indonesia oleh pihak asing karena para ahli membenarkan bahwa kandungan besi,emas,perak dsb di indonesia kalau dampai terjadi sangat berbahaya. Besi bisa di buat apa saja termasuk yg di utamakan bangsa barat. Kita dapat apa sang ahli waris. Terlalu jauh mungkin aku berfikirnya yg jelas jangan sampai senjata makan tuan( besi dari indonesia, di buat senjata perang pihak asing akhirnya buat memusnahkan indonesia,malaysia,singapura dan sekitarnya).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh mas... semoga tidak terjadi. Kita sebagai generasi pewaris mungkin harus berbenah diri...

      Hapus