Latest News

Hubungan Kejawen dengan Atlantis


Hubungan Kejawen dengan Atlantis Nusantara
Jika seandainya, kita yang sebagai pewaris masa kejayaan ATLANTIS mau membuka diri tentang ajaran-ajaran budaya tingkat tinggi (KEJAWEN) yang sebelumnya pernah kita miliki, maka banyak hal yang harus dipelajari bangsa lain tentang kehidupan pada Indonesia. 

Termasuk tentang demokrasi yang malah seolah kita adopsi dari luar.  Padahal itu milik kita yang sudah ada jauh sebelum bangsa luar memahaminya.

X MAGAZINE ----- Banyak orang, menghubungkan kata “KEJAWEN” dengan hal-hal yang berkaitan dengan mistis. Bahkan sebagian menganggap Kejawen cenderung mengarah pada klenik. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kata kejawen sendiri menjadi suatu bagian dari hal yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Padahal sebenarnya lebih dari itu.

Namun secara pribadi, “walau saya sebenarnya bukan orang jawa” sangat tertarik dengan Kejawen. Ada banyak hal yang dapat kita pahami maupun kita cerna seputar ilmu budaya dengan nuansa kental “jawa” ini.

Sekali lagi, bagi saya, Kejawen, adalah sebuah pemantaban perilaku dan tata cara berfikir maupun berkehendak dimana didalam hal ini terdapat banyak sekali pengetahuan yang sebenarnya jika kita gali dan kita kaji secara mendalam akan membuahkan sebuah pengertian bahwa dalam budaya jawa seseorang dituntut untuk berperilaku maupun bertindak selaras dengan hati maupun pikiran,karena tanpa disadari perilaku seperti ini memiliki dampak kepekaan antar individu khususnya dalam sebuah komunitas sosial, dimana perilaku tersebut dapat menjadikan keberadaan sebuah individu menjadi lebih aman dan mengerti tentang apa yang harus yang pantas dilakukan dan apa yang tidak.

Kesadaran seperti ini akan sulit sekali kita pahami jika kita tidak memulai menjadikan segala sesuatu berakar dari dirinya sendiri (SEBAB AKIBAT) seperti hal-nya sebuah filosofi jawa "tepo seliro" yang berarti belajar memahami segala sesuatu dari apa yang kita perbuat kepada orang lain,bahwasanya setiap manusia memiliki watak maupun kepentingan yang berbeda dengan kita,oleh karena itu patutlah kita menghargainya.

Dari seklumit tentang budaya jawa ini, maka, dapatlah disimpulkan bahwa, jika belajar untuk memulai menata keselarasan antara pikiran dan prilaku kita maka, dengan sendirinya akan terbentuk kemampuan pemahaman yang sangat dinamis dalam kehidupan sehari-hari.

Selain etika bersosialisasi dalam budaya jawa juga terdapat banyak sekali pengetahuan yang dapat kita pelajari, salah satunya adalah tentang kesehatan,baik kesehatan jiwa maupun jasmani. Semuanya dapat kita pelajari dalam budaya jawa.

Manunggaling Kawula Ghusti, merupakan makna yang dalam bagi Seorang Kejawen. Oleh karenanya, terkadang makna oleh bebarapa pihak yang non Kejawen, sering terpelintir esensi dari makna Manunggaling Kawula Ghusti itu sendiri.

Hal ini tidak lain dan tidak bukan, untuk memuluskan pemasaran ajaran import yang dibawanya ke dalam Masyarakat Jawa yang sengkretis.  Manunggaling Kawula Ghusti sama sekali bukan bermakna bersatunya kita dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Makna sebenarnya dari Manunggaling Kawula Ghusti adalah, bahwa hubungan seorang Kejawen dengan Tuhan Yang Maha Esa, tidak melalui perantara apapun seperti yang dilakukan oleh agama-agama Rasul.

Dalam pemahaman Kejawen, hubungan setiap orang kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah hubungan yang unik, karena pada awalnya setiap orang yang lahir di muka bumi adalah TitipanTuhan Yang Maha Esa.

Analogi lain: Jika kita mencintai dan menyayangi Ibu kandung kita, dan mengatakan bahwa Ibuku ada dalam diriku (hatiku) dan segenap aliran darahku. Apakah berarti badan Ibu kita ada dalam badan kita?
Itulah yang juga dimaksud dengan Manunggaling Kawulo Ghusti. Adalah sebuah rasa yang mendalam, dan komitmen untuk berprilaku dengan segenap hati yang bersih.

Hubungan Kejawen dengan Peradaban Atlantis

Sistem peradaban masa kejayaan zaman Atlantis kemampuan manusia lebih diukur dari sisi kematangan jiwa spiritualnya. Pendidikan sejak masih bayi pun lebih mengedepankan keluhuran budi dan pementukan mental dan karakter.  

Saat bayi masih dalam kandungan, sudah diberikan suara, musik serta bimbingan kecerdasan pada zaman itu. Semasa dalam kandungan, “orang pintar” akan memberikan pengarahan kepada orang tua sang calon anak. Sejak sang bayi lahir, orang tua merawat dan mendidiknya di rumah, menyayangi dan mencintai anak mereka. Di siang hari, anak-anak akan dititipkan di tempat penitipan anak, mendengar musik di sana, melihat getaran warna dan cerita-cerita yang berhubungan dengan cara berpikiran positif dan kisah bertema filosofis.

Pusat pendidikan anak, terdapat di setiap tempat. Anak-anak dididik untuk menjadi makhluk hidup yang memiliki inteligensi sempurna. Belajar membuka pikiran, agar jasmani dan rohani mereka bisa bekerja sama. Di tahap perkembangan anak, orang pintar memegang peranan yang sangat besar, pendidik mempunyai posisi terhormat dalam masyarakat Atlantis, biasanya baru bisa diperoleh ketika usia mencapai 60-120 tahun, tergantung pertumbuhan inteligensi. Dan merupakan tugas yang didambakan setiap orang.

Pelajaran utamanya adalah mendengar dan melihat. Sang murid santai berbaring atau duduk, sehingga ruas tulang belakang tidak mengalami tekanan (Meditasi). Metode lainnya adalah merenung, mata ditutup dengan perisai mata, dalam perisai mata ditayangkan berbagai macam warna. Pada kondisi merenung, metode visualisasi seperti ini sangat efektif. Bersamaan itu juga diberi pita kaset bawah sadar. Saat tubuh dan otak dalam keadaan rileks, pengetahuan mengalir masuk ke bagian memori otak besar. Ini merupakan salah satu metode belajar yang paling efektif, sebab ia telah menutup semua jalur informasi yang dapat mengalihkan perhatian. “Orang pintar” membimbing si murid, tergantung tingkat kemampuan menyerap sang anak, dan memudahkan melihat bakat tertentu yang dimilikinya. Dengan begini, setiap anak memiliki kesempatan yang sama mengembangkan potensinya.

Pemikiran maju yang positif dan frekwensi getaran merupakan kunci utama dalam masa belajar dan meningkatkan/mendorong wawasan sanubari terbuka. Semakin tinggi tingkat frekwensi getaran pada otak, maka frekwensi getaran pada jiwa semakin tinggi. Semakin positif kesadaran inheren, maka semakin mencerminkan kesadaran ekstrinsik maupun kesadaran terpendam. Ketika keduanya serasi, akan membuka wawasan dunia yang positif: Jika keduanya tidak serasi, maka orang akan hanyut pada keserakahan dan kekuasaan. Bagi orang Atlantis, mengendalikan daya pikir orang lain adalah cara hidup yang tak beradab, dan ini tidak dibenarkan.

Kaidah inteligensi dengan keras melarang mencampuri kehidupan orang lain (Dasar-dasar demokrasi). Meskipun kita tahu ada risikonya, namun kita tidak boleh memaksa atau menghukum orang lain, sebab setiap orang harus bertanggung jawab atas perkembangan sanubarinya sendiri. Pada masyarakat itu, rasa tidak aman adalah demi untuk mendapatkan keamanan. Filsafat seperti ini sangat baik, dan sangat dihormati orang-orang ketika itu, ia adalah pelindung kami.
Sementara dalam perikehidupan masyarakat Kejawen, kematangan mental dan spiritual juga menjadi bagian penting dalam tatanan kehidupan. Sehingga, dalam upaya penyadaran diri lebih ditekankan pada hakikat atau ensensi pengenalan jati diri manusia itu sendiri. Intelejensi spiritual lebih dominan dalam mengontrol prilaku manusia Kejawen.

Bagi saya, yang bukan orang jawa, dasar-dasar Kejawen, tidak seperti agama-agama yang bermunculan dewasa ini. Dimana lebih menonjolkan tentang aturan-aturan atau tata cara beragama. Sehingga agama cenderung lebih bernuansa doktrin-doktrin yang harus diyakini tanpa perlu bertanya. Baku dan terorganisir. Sehingga syariat terkadang terlihat lebih penting dari pada hakikat.

Kejawen, jika dilihat dari history proses terbentuknya Negara Indonesia, sebenarnya bukan agama Jawa, ia adalah sebuah ajaran tentang makna kehidupan yang telah ada jauh sebelum adanya cikal bakal Indonesia. Mungkin bisa kita sebut “untuk mempersatukan wilayah” adalah NUSANTARA. Atau jika ingin lebih jauh lagi adalah ATLANTIS.

KEJAWEN hadir, jauh sebelum adanya agama. Karena kecendrungan ajarannya bukan  mengarah pada system tata cara beragama, tapi lebih kepada hakikat spiritualis yang demokrasi dalam berpikir. Maka, potensi agama-agama untuk masuk dalam ranah KEJAWEN sangat besar. Terbukti di NUSANTARA agama terbilang cukup banyak berkembang dan besar. Bahkan mendominasi.

Kejawen, adalah sebutan bagi masyarakat  JAWA untuk ajaran tentang makna kehidupan. Dan sebenarnya makna kehidupan ini merupakan ajaran bagi peradaban cikal-bakal nusantara. Ia bagian dari warisan ajaran-ajaran peradaban bangsa ATLANTIS yang jaya pada masa. KEJAWEN adalah ajaran makna kehidupan yang relevan bagi semua manusia.

Kenapa ajarannya sukar untuk masuk dalam ranah kehidupan para pemeluk agama yang sudah terlanjur merasakan kebeneran-kebenaran agama, maka KEJAWEN kemudian terpelintir dan mengalami penolakan  sebelum dipelajari, dilihat, dan dirasakan.

Disisi lain, label ajarannya yang sudah melekat dan dinamai sebagai KEJAWEN, sehingga membuat orang yang merasa diluar JAWA merasa dan berpikir itu bukan untuknya.

Padahal sejatinya, ia adalah ajaran makna kehidupan yang mengajak kita untuk melakukan perjalanan spiritualis jauh lebih tinggi dalam merasakan keberadaan sesuatu yang MAHA. Atau sering kita sebut tuhan. Sesuatu yang pasti bukan karena keyakinan yang tumbuh akibat doktrin.

Jika seandainya, kita yang sebagai pewaris masa kejayaan ATLANTIS mau membuka diri tentang ajaran-ajaran budaya tingkat tinggi (KEJAWEN) yang sebelumnya pernah kita miliki, maka banyak hal yang harus dipelajari orang bangsa lain tentang kehidupan. Termasuk tentang demokrasi yang malah seolah kita adopsi dari luar.  Padahal itu milik kita yang sudah ada jauh sebelum bangsa luar memahaminya. 

Createdby: dediariko

9 Responses to "Hubungan Kejawen dengan Atlantis"

  1. wah benar-benar salut saya...

    BalasHapus
  2. itulah kejawen, bkn hy mistik tp bentuk pencapaian tingkat spiritual tertinggi hingga melahirkan apa yg dsbt Manusia Sejati.

    BalasHapus
  3. Islam yang murni juga beribadah TANPA perantara, beribadah langsung kepada Allah dimanapun tempat dan arah.
    Muhammad hanya penyampai Risalah, sebab tanpa adanya rasul seperti Muhammad, Musa, Isa Al Masih dal iannya darimana kita bisa mengenal Allah dan petunjukknya???

    Beriman Itu Baik, namun pincang tanpa dilenkapi dengan ketaqwaan.

    sebab beriman tanpa ketaqwaan ibarat keboongan.
    contoh : kita beriman bahwa Bapak kita adalah cikal bakal kita, namun kita sekedar percaya tanpa disertai dengan ketaatan atau mempercayai semua nasehat bapak kita. menafikkan semua petunjuknya, tidak menuruti perintah-perintahnya = anak durhaka/pengingkar orang tua.

    atau kita beriman bahwa mereka orang tua kita, tapi kita kadang-kadang, kadang nurut kadang mbangkang.

    apakah demikian yg disebut beriman???????

    bukankah para rasul sudah meneladankan kehidupan yg baik, kita tinggal mencontoh saja.

    apakah kita hendak membuat ajaran sendiri, dan tata cara sendiri????

    emang siapa yng mencipta kita??? kok kita memakai cara kita sendiri.

    BalasHapus
  4. menarik tuk disimak......
    Kejawen, gimana cara mempelajarinya?

    BalasHapus
  5. http://alangalangkumite

    http://sabdalangit.wordpress.com/atur-sabdo-pambagyo/kejawen-ajaran-luhur-yang-dicurigai-dikambinghitamkan/

    http://www.kapribaden.org/K_Kapribaden%20Itu%20Apa.php
    http://kuncibudaya.blogspot.com/2011/06/kapribaden-kunci.html

    http://meditasiku.blogspot.com/2008/06/kapribaden.html‎

    http://kuncibudaya.blogspot.com/.../kapribaden-kunci.html‎

    http://kantorupo.mywapblog.com/sejarah-kapribaden.xhtml‎

    BalasHapus
  6. @Muhammad: tuh udah ada yang jawab sama Javanizis.
    @anonim: cara mempelajarinya juga udah di jawab Javanizis.

    disini asik rame: http://sabdalangit.wordpress.com/atur-sabdo-pambagyo/kejawen-ajaran-luhur-yang-dicurigai-dikambinghitamkan/


    BalasHapus
  7. Baguz gan…
    Sedikit koreksi ya, ………tp
    Terlalu pnjg mau d ceritakan…hehe
    Q jg mau cari lawan share ttg hidup ini…

    BalasHapus