Latest News

Teknologi dari Zaman Atlantis hingga Indonesia

Ilustrasi Atlantis
X MAGAZINE --- Jujur, ada keasikan tersendiri ketika menelusuri tentang misteri Atlantis. Misteri sebuah benua yang hilang dengan sejuta pertanyaan. 
Benarkah, legenda itu ada? Atau hanya sekedar rekaan berbalut imajinasi saja. 
Ada yang menyangkal, namun tidak sedikit pula yang berupaya dengan serius untuk membuktikannya. 

Pakailah Google search engine di URL http://www.google.com/. Gunakan kata kunci ”teknologi atlantis”. Muncullah 99.200 hasil telusur untuk kata kunci itu pada hari Rabu 15 Desember 2009 jam 15.41 wib. Di urutan pertama adalah informasi dari alamat http://aravangel.blogspot.com/2009/01/benua-atlantis-dan-lemuria-yang-telah_27.html dengan ringkasan bahwa bangsa Atlantis lebih mengandalkan fisik, TEKNOLOGI, dan gemar berperang. Bangsa ini mirip dengan bangsa Lemuria yang mempunyai tanah yang subur, masyarakat yang makmur, dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang mendalam. Bangsa Atlantean menggunakan crystal secara intensif dalam kehidupan mereka.
Menurut Edgar Cayce, spiritualis Amerika, Kuil Atlantis menempatkan sebuah kristal generator raksasa yang dikelilingi kristal-kristal lain, baik sebagai sumber tenaga, mau pun guna berbagai penyembuhan. Banyak info mengenai Atlantis diperoleh dengan dengan men-channel kristal-kristal ’old soul’ yang pernah digunakan pada zaman Atlantis. Menurut beliau, munculnya Atlantis sebagai suatu peradaban super power pada saat itu (kalau sekarang mirip Amerika Serikat) membuat mereka sangat ingin menaklukkan bangsa-bangsa di dunia, di antaranya Yunani dan Lemuria yang dipandang oleh para Atlantean sebagai peradaban yang kuat.

Berbekal peralatan perang yang canggih serta strategi perang yang baik, invansi Atlantis ke Lemuria berjalan seperti yang diharapkan. Karena sifat Lemuria yang menjunjung tinggi perdamaian, mereka tidak dibekali TEKNOLOGI PERANG secanggih bangsa Atlantean, sehingga dalam sekejap, Lemuria pun jatuh ke tangan Atlantis. Para Lemurian yang berada dalam kondisi terdesak, akhirnya banyak meninggalkan bumi untuk mencari tempat tinggal baru di planet lain yang memiliki karakteristik mirip bumi (diperkirakan Planet Erra /Terra di gugus bintang Pleiades). Teknologi mereka pada saat itu sudah sangat maju. Penguasaan TEKNOLOGI PENJELAJAHAN LUAR ANGKASA mungkin telah dapat mereka realisasikan di jauh hari sebelum perang.

Dari URL http://sariwibowoaang.wordpress.com/2009/07/15/teknologi-bangsa-rama-dan-atlantis/ diperoleh informasi bahwa bangsa Atlantis dan Rama berperang menggunakan senjata pemusnah massal yaitu NUKLIR. Alkisah raja Ashoka dari kerajaan Rama membuat suatu organisasi yang berisi 9 ilmuwan terbaik kerajaan Rama, yang disebut 9 misterious men (kalo di amerika semacam MJ-12). Mereka telah menciptakan 9 buku yang saling berkaitan. Salah satu judulnya adalah RAHASIA-RAHASIA GRAVITASI. Beberapa tahun silam, sekelompok arkeolog China menemukan beberapa dokumen di daerah Lhasa. Mereka membawanya ke Universitas Chandrigradh untuk diterjemahkan. Dr.Ruth Reyna yang menerjemahkan dokumen tersebut kaget bukan kepalang. Karena isi dari dokumen itu adalah petunjuk untuk membuat suatu pesawat ruang angkasa!!! Cara pembuatan menurut dokumen tersebut adalah anti gravitasi dan berasaskan kepada suatu sistem analog yang disebut laghima, semacam sumber tenaga. Menurut seorang ahli yoga hindu, laghima adalah suatu ilmu yang dapat membuat sang penguasanya terbang!! Menurut dokumen ini,  kendaraan terbang itu disebut ASTRAS, dan astras-atras  itu yang telah membawa sebagian penduduk Rama untuk bermukim di planet lain. Dokumen tersebut bahkan memaparkan rahasia ilmu lain seperti antima (menghilang),  gerima (menjadi seberat gunung). Pada awalnya para ilmuwan India tidak terlalu menganggap serius dokumen ini, tetapi mereka terkejut ketika RRC memasukkan sebagian isi dokumen tersebut untuk proyek luar angkasanya!!!

Dokumen ini didukung oleh cerita di dalam Ramayana yang menceritakan perjalan mendetail mereka ke bulan. Kota kerajaan Rama pun diceritakan mempunyai tata landscape dan pembuangan air yang sangat modern.  Ingat cerita Nabi Sulaiman?? Menurut Al – Qur’an  istana beliau seperti mengawang di atas air, dan mukjizat Nabi yang bisa terbang???

Menurut penjelasan teks India kuno,  mereka mempunyai kendaraan terbang yang disebut VIMANA. Digambarkan bahwa vimana mempunyai dua dek,  berbentuk bulat,  mempunyai lubang di bagian bawah,  dan menara di bagian atas. Disebutkan ada 4 macam vimana, dari yang berbentuk piringan sampai dengan yang seperti silinder. Bahkan banyak ditemukan juga manual penerbangan vimana tersebut. Pada tahun 1875, ditemukan kitab berjudul Vaimanika Sastra. Di dalamnya berisi tentang manual penerbangan vimana, langkah penyelamatan, penerbangan jauh, bahkan tentang bagaimana cara selamat dari petir.

Lanjutan dari kitab Vaimanika Sastra di atas, di sana dijelaskan kelemahan dan kekurangan dari ke-empat jenis vimana tersebut.  Diterangkan pula mengenai 31 bagian dalam Vimana tersebut,  juga 16 sumber tenaga untuk menyerap panas sinar matahari untuk menggerakkan Vimana tersebut. Dokumen ini telah disunting pada tahun 1979 ke dalam bahasa Inggris oleh E.N. Joser. Tidak ada keraguan lagi bahwa Vimana memang menggunakan teknologi anti gravitasi, karena vimana mampu take off secara melintang dan mempunyai mobilitas seperti helicopter (bahkan lebih hebat lagi).  Diceritakan vimana diangkut oleh vimana griha (mungkin semacam pesawat induk), dan vimana ini dicat dengan cat berwana putih kekuningan, dan kadangkala dengan sejenis zat merkuri. Zat kekuningan ini mungkin adalah gaselin.

Anda pernah lihat film hellboy?? Di sana diceritakan tentang NAZI yang berusaha menguasai tenaga mistis yang lebih maju untuk mendapatkan kekuatan yang lebih hebat lagi. Ternyata konon hal ini emang benar terjadi. Hitler diceritakan sangat tertarik oleh peradaban kuno yang terletak di sekitar daerah India – Tibet (daerah kerajaan Rama).  Pasukan ekspedisi pun kabarnya sering dikirim ke sana sekitar tahun 30-an.Tidak mustahil tentunya jika pihak Nazi berhasil mengadopsi beberapa teknologi ini.  Contohnya pesawat pertama yang dapat take off secara melintang  juga ditemukan oleh NAZI.

Merujuk pada Dravnaparva yang merupakan bagian dari epiks Mahabrata dan Ramayana, Vimana digambarkan sebagai sebuah bujur yang mempunyai kecepatan angin yang berasal dari bahan merkuri. Di dalam kitab Samarasanganasutradhara juga dijelaskan mengenai vimana dan bahan bakarnya, merkuri. Banyak ilmuwan Rusia yang heran ketika menemukan panduan mengendarai kendaraan (bukan menunggangi kuda atau semacamnya) di gua di gurun Gobi dan Turki. Di relief itu digambarkan sebuah benda yang sedang terbang dengan lambang merkuri di dalamnya. Coba kita perhatikan cuplikan dari kitab Mahawira dan Bhawabhuti yang berasal dari abad ke-8 di bawah ini :

“…..sebuah kendaraan udara, Pushpaka membawa banyak orang ke ibukota Ayodhya. Langit dipenuhi berbagai kendaraan terbang, gelap bagai malam, namun terang karena warna kekuningan mereka……”

Deskripsi mengenai vimana dari satu kitab ke kitab lain secara garis besar adalah sama.  Jadi bisa disimpulkan bahwa vimana bukanlah khayalan. Ternyata bangsa Atlantis juga mempunyai sebuah alat terbang. Alat ini dinamakan VAILIXI. Orang India menyebutnya Astwin. Sayangnya tidak ada penjelasan mengenai vailixi ini sendiri yang bisa kita temukan di Atlantis (sekarang lokasi Atlantis-nya sudah diketemukan),  justru bukti tentang adanya vailixi ini diperoleh lagi-lagi dari kitab India kuno. Dideskripsikan vailixi berbentuk silinder panjang yang selain bisa terbang juga dapat menyelam di laut!!! Menurut Eklal Kueshshana, dalam bukunya “the ultimate frontier” pada tahun 1966, vailixi yang pertama dibuat sekitar 20.000 tahun lalu.  Bentuk yang paling umum adalah piringan dengan tiga ruang mesin. 

Menurutnya “Mereka menggunakan satu peralatan mekanikal yang anti gravitasi yang memiliki tenaga sekitar 80.000 ekor kuda”.

Atlantis - The Lost Continent Finally Found -

This site presents a new theory on Atlantis by a Brazilian scientist, Prof. Arysio Santos, which he discovered in the Indian Ocean. www.atlan.org 

Atlantis, The Lost Continent Finally Found, released on August 2005, is Prof. Arysio Santos' latest work. Following the same line of thought that made his homonymous website become the most popular in its category, having received more than 2.5 million visits within the past few years, he explains in this book his Theory on Atlantis, using an infinitude of arguments, which range from the strictly scientific (such as Geology, Linguistics, and Anthropology) to the more arcane and occult ones.

A professional scientist with a PhD in Nuclear Physics and Free-Docency in Physical-Chemistry, the author has dedicated himself intensely to the study of the Atlantis problem, for about 30 years now. Being the first one to ever link the catastrophic events of the end of the last Ice Age (11.600 years ago) with the world-wide traditions of the universal Flood and the destruction of Atlantis, Prof. Santos managed to find a perfect site for the location of the Lost Continent. Such site strives unrivaled as being the most logical one ever proposed, matching all the features mentioned by the Greek philosopher Plato, as well as those cited by other sources.

The reader will be confronted with strongly based evidence of all sorts to the existence of Atlantis, written by a reputed scientist, enough to shake the beliefs of the most hard-core skeptic. This book should also please the fans of the occult and symbolic disciplines, as the author frequently interconnects them with Atlantis and explains their meaning. Illustrated with over 30 line-art figures and printed in high quality white paper, Prof. Santos’ book is a must for everyone interested in the subject of Atlantis and lost civilizations.

Dikatakan di buku itu Indonesia adalah True Site of Eden. Indonesian adalah Atlantis and the Four Rivers of Paradise. Indonesia adalah the Remnants of Sunken Atlantis. Ini amat mengejutkan. Dari URL http://www.atlan.org/articles/checklist/

17) SUPERIOR SCIENCE AND TECHNOLOGY


The only hard evidence given by Plato of a superior technology utilized by the Atlanteans consists in the use of ORICHALC, the mysterious metal which "flashed like fire" and which they used to clad the walls of their citadel. As we adduced above (see item 16) orichalc — or aurichalcum, that is "golden copper", as Pliny wrote — is BRASS, an alloy of copper and zinc of a beautiful golden colour and superior mechanical properties. The MANUFACTURE OF BRASS was a technological feat that could only be repeated in modern times due to the difficulties inherent in the process. The fact that the Atlanteans could mass produce this alloy is a direct proof of their superior science and technology. So is, for that matter, the fact that they could mass produce metals and gemstones in quantity sufficient to supply the ancient nations with these items so difficult to procure and to process in the primitive conditions that were then prevalent.

The proofs of a superior science and technology possessed by the Atlanteans are of a twofold nature: traditional and factual. In the traditional account we have the legends and myths like those on wonderful flying machines like the VIMANAS and the VAHANAS of the Ramayana and the Mahabharata. These holy books talk of airships capable of carrying entire armies; of weapons (agniastras) that can only have been firearms and of explosives that, like the atomic weapons, were able to wipe out entire cities. They tell of TALKING MACHINES capable of making forecasts and of allowing the viewing of distant persons. They also speak of teleportation, of telepathy, of levitation, of transmutation of the metals, of the effortless erection of megalithic buildings and structures such as the Great Pyramid. Such "magical means" bespeak of a superior science and technology. Furthermore, those sacred traditions even suggest the use of GENETIC ENGINEERING to create the domesticated plants and animals, if not a sub-species of men intended for specific purposes like that of "serving the gods".

Superior metallic alloys such as stainless steel, bronze and brass ("orichalc") have existed from remotest antiquity. And no one has been able so far to give a satisfactory account of the epoch of their invention or of their place of origin. Where else but in Atlantis, the true site of the Garden of Eden? Crucial inventions like the domesticated plants and animals, the alphabet, scripture, paper, gunpowder, metal-casting and smelting, brewing and distillation, medicinal drugs, ELECTROPLATING, lenses, telescopes and eyeglasses, stone cutting and shaping, and a myriad such "magical creations" apparently came to us from nowhere. In the official accounts, they came from an unlikely "China". But China was itself civilized, as were most ancient nations, by the Hindus. The Hindus, in turn, claim to have been civilized by the Atlantean Nagas. Are they all indeed telling a lie or the truth? And why would the ancients all be lying?

In our opinion, the greatest achievement of the ancient Atlanteans lay in THE SOCIAL AND METAPHYSICAL SCIENCES: Religion, Philosophy, Ethics, Law, Mythology, Psychology and so on. Whoever studies in depth the true scope of Greek philosophy — as expounded by philosophers such as Plato, Pythagoras, Aristotle, Epicurus, Zeno, Thales, Anaxagoras and several others — will not fail to realize that their esoteric doctrines all root in the Hindu darshanas (philosophical systems). The profundity of these Indian sciences so far surpass the ones of the Occident that it is only as the result of being blinded by ethnocentrism that our experts have failed to realize the fact that our religions and our philosophical systems all came to us from the ORIENT. Now, this could only have happened in the dawn of times, precisely as our Holy Books and our sacred traditions maintain. All these "Hindu" doctrines, in turn, root in ancient treatises ascribed to legendary authors of antediluvian times which can be none other than those of Atlantis itself.

Religion too — perhaps the greatest of all creations of Man — can only have originated in Paradise, that is, in Atlantis itself. This is easy to see not only in the ancient traditions of its revelation by gods or angels or superior beings (Atlanteans), but also by the fact that all religions stem from a single source, the Urreligion (or "Primeval Religion") envisaged by certain specialists of genius such as Mircea Eliade and René Guénon. Mythology is yet another Atlantean creation that provides the archetypes and the exemplary models of behavior and mentality that we all follow rather blindly and instinctively during our lifetime. Most myths deal with Atlantis and Atlantean matters, and enmesh serendipitously with the eschatological doctrines of our religions.

Where else but in destroyed Atlantis could myths such as those of the Flood or that of the Millennium and THE REBIRTH OF THE CELESTIAL JERUSALEM (ATLANTIS) have originated? Who else but the Atlanteans could have diffused myths such as these to the whole world, including the remotest corners of the Amazon jungle and those of INDONESIA AND SOUTH ASIA? The fact is that all supreme inventions — the ones that turned Man into something more than an ape or a ravening beast — came to us from Atlantis, in the dawn of times. The one invention which allowed all others was that of agriculture, the supreme legacy of the ancient Atlanteans to us. It was agriculture that allowed the fixation of Man to the ground, and guaranteed the availability of food with far less labor than that required in hunting and gathering foodstuffs.

Agriculture created the surplus time for thinking and for the development of inventions and creations that allowed us to rise over the other beasts of the field. But when we talk of agriculture and of animal domestication we cannot forget that these activities were only rendered possible by the artificial creation of species and strains of a very particular nature. Such developments require the use of advanced GENETIC ENGINEERING quite like or even superior to the modern ones. With its peculiar arrogance, modern science has been utterly incapable of creating even a single example of domesticated plant or animal beyond the ones we inherited from the dawn of times, the epoch of our Atlantean forefathers. Many of these plants and animals — in particular the dog, the pig, the goat, maize, wheat, barley, cotton, coconuts, pineapples, yam, potatoes, bananas, grapes and many others — existed both in the Old and in the New World.

Moreover, many of these responded by the same name on both sides of the world. Who else but the Atlantean Sons of God could have created them and brought them to the other distant nations of the world? This is precisely what the holiest traditions of all peoples claim, the world over. Why would they all lie such a crucial issue as this one? Moreover, when we seek the true place of origin of all these magnificent creations of men or gods, we verify that they have been always present and apparently came from nowhere. The specialists are hard put to tell the date and the place of their origin, and their researches push them all, evermore, towards the Far East, the true place of origin of agriculture and of civilization. Other sciences that clearly prove the existence of Atlantis are those of ASTRONOMY and GEODESY. Some ancient maps of the world, such as those of Piri Reis and of Oronteus Finaeus, embody an uncanny knowledge of the whole world that could not have been obtained at all without a sophisticate system of cartography and geodesy.

And this, in turn, requires an advanced knowledge of SPHERICAL TRIGONOMETRY, of logarithms, of projective geometry and of related sciences. Moreover, this precision mapping requires the use of very accurate instruments like chronometers, telescopes, sextants, armillary spheres, and so on, for the determination of the stellar coordinates and of the position of the observer at the time of observation. The creation of such INSTRUMENTS again requires an ADVANCED SCIENCE AND TECHNOLOGY in fields such as optics, metallurgy and materials science. Who else but the Atlanteans could have possessed this technology so early in time? The same amazing precision and superior science obtains in the case of Astronomy.

The ancients knew — but clearly lacked the capability for having discovered such facts — about the two moons of Mars, the twelve of Jupiter, the ten of Saturn. Moreover, they knew of the heliocentricity of the Solar System, of the nine planets, and the rings of Saturn, as well as of the fact that Sirius, the largest star in the sky, has a invisible twin of extremely high density. These and many other astronomical facts can only be observed with very large telescopes and very refined observational techniques. Such instruments and techniques could only have been developed by the Atlanteans and by no other nation, barring extra-terrestrials and angelic powers.

The ancients were also capable of calculating and effecting stellar alignments of an amazing precision. Their accuracy sometimes exceeds what modern astronomers can do, even with THE BEST OF COMPUTER PROGRAMS. They had an almost superior ability to predict astronomical dates and ephemerides both in the distant past and in the distant future. These dates they unequivocally indicated by means of accurate alignments embedded in the Great Pyramid and in other artifacts that many traditions attribute to the Atlanteans. Likewise, the Great Pyramid also embodies such geodetical measurements as the lengths of the Polar Meridian and the Equatorial Circle to a precision that favorably compares to those obtained recently by geodetical satellites. We discuss these matters in detail in our book on Atlantis, to which we refer the interested reader.

KOMPUTER


Prof. Arysio Santos sudah menyatakan adanya program komputer terbaik untuk kalkulasi dan efek presisi mengagumkan dari stellar alignments. Wujud komputer yang kita kenali sekarang terdiri atas logam, plastik, kaca, keramik, dan lain-lain. Apakah komputer zaman Atlantis serupa? Baiklah mari kita lanjutkan pembahasan.

Logam yang berasal dari zaman Atlantis adalah orichalc atau brass. Orichalc adalah metal yang ber-flash seperti api, disebut juga sebagai aurichalcum (golden copper). Brass adalah alloy dari tembaga dan seng, berwarna keemasan indah dan properti mekanikal superior.

Dari berbagai sumber, secara umum dapat digambarkan berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini memberikan beberapa bahan kajian yang menarik. Antara lain adalah:


  • Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30000-15000 BC).
  • Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir.
  • Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).
  • Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato.
  • Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi's City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo.
  • Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.
  • Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar.

Tahun 1972 silam, ada sebuah penemuan luar biasa yang barangkali bisa semakin memperkuat dugaan bahwa memang benar peradaban masa silam telah mengalami era Nuklir yaitu penemuan tambang Reaktor Nuklir berusia dua miliyar tahun di Oklo, Republik Gabon.


Pada tahun 1972, ada sebuah perusahaan (Perancis) yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo di Republik Gabon, Afrika untuk diolah. Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor tersebut ternyata sudah pernah diolah dan dimanfaatkan sebelumnya serta kandungan uraniumnya dengan limbah reaktor nuklir hampir sama. Penemuan ini berhasil memikat para ilmuwan yang datang ke Oklo untuk suatu penelitian, dari hasil riset menunjukkan adanya sebuah reaktor nuklir berskala besar pada masa prasejarah, dengan kapasitas kurang lebih 500 ton biji uranium di enam wilayah, diduga dapat menghasilkan tenaga sebesar 100 ribu watt. Tambang reaktor nuklir tersebut terpelihara dengan baik, dengan lay-out yang masuk akal, dan telah beroperasi selama 500 ribu tahun lamanya.

Yang membuat orang lebih tercengang lagi ialah bahwa limbah penambangan reaktor nuklir yang dibatasi itu, tidak tersebar luas di dalam areal 40 meter di sekitar pertambangan. Kalau ditinjau dari teknik penataan reaksi nuklir yang ada, maka teknik penataan tambang reaktor itu jauh lebih hebat dari sekarang, yang sangat membuat malu ilmuwan sekarang ialah saat kita sedang pusing dalam menangani masalah limbah nuklir, manusia zaman prasejarah sudah tahu cara memanfaatkan topografi alami untuk menyimpan limbah nuklir!

Tambang uranium di Oklo itu kira-kira dibangun dua miliar tahun, setelah adanya bukti data geologi, dan tidak lama setelah menjadi pertambangan maka dibangunlah sebuah reaktor nuklir ini. Mensikapi hasil riset ini maka para ilmuwan mengakui bahwa inilah sebuah reaktor nuklir kuno, yang telah mengubah buku pelajaran selama ini, serta memberikan pelajaran kepada kita tentang cara menangani limbah nuklir. Sekaligus membuat ilmuwan mau tak mau harus mempelajari dengan serius kemungkinan eksistensi peradaban prasejarah itu, dengan kata lain bahwa reaktor nuklir ini merupakan produk masa peradaban umat manusia.

Seperti diketahui, penguasaan teknologi atom oleh umat manusia baru dilakukan dalam kurun waktu beberapa puluh tahun saja, dengan adanya penemuan ini sekaligus menerangkan bahwa pada dua miliar tahun yang lampau sudah ada sebuah teknologi yang peradabannya melebihi kita sekarang ini, serta mengerti betul akan cara penggunaannya. Hal yang patut membuat orang termenung dalam-dalam ialah bahwa mengapa manusia zaman prasejarah yang memiliki sebuah teknologi maju tidak bisa mewariskan teknologinya, malah hilang tanpa sebab, yang tersisa hanya setumpuk jejak saja. Lalu bagaimana kita menyikapi atas penemuan ini? Permulaan sebelum dua miliar tahun hingga satu juta tahun dari peradaban manusia sekarang ini terdapat peradaban manusia. Dalam masa-masa yang sangat lama ini terdapat berapa banyak peradaban yang demikian ini menuju ke binasaan?

Jika kita abaikan terhadap semua peninggalan-peninggalan peradaban prasejarah ini, sudah barang tentu tidak akan mempelajarinya secara mendalam, apalagi menelusuri bahwa mengapa sampai tidak ada kesinambungannya, lebih-lebih untuk mengetahui penyebab dari musnahnya sebuah peradaban itu. Dan apakah perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang akan mengulang seperti peradaban beberapa kali sebelumnya? Betulkah penemuan ini, serta mengapa penemuan-penemuan peradaban prasejarah ini dengan teknologi manusia masa kini begitu mirip?
Semua masalah ini patut kita renungkan dalam-dalam.

Teknologi mesir jaman dulu saja sudah mampu menciptakan lampu pijar.
Bagi kalian yang sudah membaca buku Best Seller "Chariots of the Gods" karya Erich Von Daniken, pastinya sudah tidak asing lagi dengan beberapa hipotesa maupun teori-teori spektakuler mengenai "ancient visitor /ancient astronout" dan "search for ancient technology" yang secara gamblang dikemukakan oleh Daniken.

Menurut pandangan masyarakat umum, masa peradaban-peradaban kuno ribuan bahkan jutaan tahun lalu, merupakan masa peradaban yang sangat jauh dari kesan kecanggihan teknologi serta penguasaan ilmu pengetahuan yang mendalam, tidak sedalam dengan penguasaan IPTEK manusia masa kini (singkatnya: masih terbelakang alias primitif).

Namun, penemuan saintis dan ahli arkeologi sejak beberapa tahun belakangan ini seolah-olah menghilangkan pandangan umum bahwa peradaban-peradaban masa silam adalah peradaban-peradaban yang terbelakang, penguasaan ilmu pengetahuan yang masih payah dan memiliki kesan yang jauh dari teknologi.

Malahan, para saintis kini semakin kebingungan memikirkan penemuan artifak-artifak purba yang menjurus kepada kenyataan bahwa peradaban-peradaban kuno sebenarnya sudah begitu maju dari segi sains dan teknologi malah mungkin lebih futuristik daripada zaman sekarang!

Kenyataan itu memang sukar dipercayai karena tolak ukur era perkembangan sains dan teknologi baru bermula sekitar 200 tahun lalu dan teknologi komputer berasaskan elektronik baru mulai sekitar tahun 1940-an.

Akan tetapi, artifak purba serta catatan kuno yang berhasil ditemukan para arkeolog justru menceritakan sebaliknya - masyarakat zaman purba sudah memiliki teknologi hebat serta maju dalam berbagai bidang terutama sains.

Penemuan-penemuan arkeologis yang mengagumkan seperti penemuan jantung buatan yang berhasil ditemukan pada suatu mummi dari masa peninggalan peradaban Mesir kuno contohnya, bukankah itu merupakan suatu bukti kongkrit bahwa peradaban mesir kuno pada ribuan tahun silam telah menguasai ilmu sains dan kedokteran setinggi itu.
padahal kita ketahui, sejarah ilmu kedokteran pada masa kini baru bisa memperkenalkan konsep jantung buatan pada beberapa puluh tahun lalu, tetapi dari penemuan di atas tadi diketahui jantung buatan ternyata telah diperkenalkan sejak 5000 tahun silam.

Selain itu, ada beberapa temuan yang mengindikasikan bahwa masa sebelum masehi manusia telah mengenal peralatan-peralatan listrik. Contohnya penemuan artifak "The Baghdad Battery" yang pernah dibahas di sini, bukankah itu juga merupakan salah satu peralatan elektrik masa silam yang berhasil ditemukan.


Tentunya kedua artifak tersebut mungkin belumlah cukup untuk membuktikan teori "ancient electricity" yang dikemukakan oleh beberapa pakar seperti Daniken.

Tetapi tahukah teman-teman, bahwa sudah cukup banyak temuan yang bisa dijadikan bukti bahwa peradaban manusia masa sebelum masehi telah mengenal listrik maupun peralatan listrik?

Berawal dari para arkeolog yang terkesan dengan kerapian penyusunan interior dan keindahan relief lukisan dinding-dinding di dalam piramid Mesir. Lalu kemudian mereka menyadari, bahwa tanpa adanya alat penerangan maka bagaimana para pekerja maupun senimannya dapat melakukan pekerjaannya?

Jika demikian, maka seharusnya ada alat penerangan. Tetapi yang membingungkan mereka adalah tak pernah ditemukan adanya jelaga atau bekas-bekas sisa pembakaran api sebagaimana lazimnya alat penerangan kuno (obor, lilin, lampu minyak). Lantas teknik penerangan apa yang mereka gunakan pada masa itu?

Di dalam suatu ruang di bawah Kuil Dendera, sebuah kuil yang terletak di sebelah selatan Luxor (Mesir) dan dibangun oleh firaun Mesir untuk memuja Dewi Hathor pada 4.200 tahun yang lalu, terdapat relief-relief yang menggambarkan semacam alat penerangan berupa bola lampu lonjong berukuran besar.

Bagian kepala bola lampu disangga oleh dudukan dengan per pegas yang tampaknya dapat berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan arah (sorotan) lampu. Sedangkan bagian ujung lainnya terhubung dengan semacam pipa melengkung ke kotak dasar alat penerangan tersebut. Walaupun seandainya gambar tersebut merupakan simbol, tetapi bagaimana masyarakat pada masa itu dapat membuat desain teknis semacam itu?

Yang cukup hebat adalah ketika Erich Von Daniken bersama beberapa tim saintis lainnya berhasil menciptakan sebuah replika bola lampu yang benar-benar ditiru dari desain relief di temple Dendera itu.

Ekspresimen ini mereka lakukan untuk mengetahui kegunaan sebenarnya dari benda yang dipegang oleh Sang Fir'aun tersebut, apakah benar-benar merupakan semacam alat penerangan, atau hanya sebatas simbol semata.

Sebelumnya, mereka terlebih dahulu harus bisa mengidentifikasi beberapa simbol obyek dalam relief-relief itu sebagai penuntun dalam pembuatannya.

Dari beberapa sumber, inilah hasil identifikasi dari setiap obyek-obyek dalam relief tersebut :

Ket:
1.
Priest
2. ionised fumes
3. electric discharge (snake)
4. Lamp socket (Lotos)
5. Cable (Lotos stem)
6. Air god
7. Isolator (Djed-Pillar)
8. Light bringer Thot with knifes
9. Symbol for "current"
10. Inverse polarity (Haarpolarität +)
11. Energy storage (electrostatic Generator?)


Beberapa Temuan "Mirip" Lainnya :

Tahun 1601, seorang pendeta dan pencatat perjalanan para pelaut penjelajah Spanyol bernama Barco Centenera memberitakan tentang sebuah kota di tengah belantara Amerika Selatan yang dihuni penduduk Inca bernama El Gran Moxo, dekat hulu Rio (sungai) Paraguai, bagian tengah Matto Grosso (kini adalah sebelah barat kota Diamantino) yang memiliki sebuah ‘bulan’ (bola lampu) menakjubkan di atas sebuah tiang setinggi 7,75 meter. Bola lampu ini berdiameter sekitar 10 kaki dan bersinar sangat terang.

Pada sebuah konferensi tentang lampu jalan dan lalu lintas tahun 1963 di Pretoria (Afrika Selatan), C.S. Downey mengemukakan tentang sebuah pemukiman terisolir di tengah hutan lebat Pegunungan Wilhelmina (Peg. Trikora) di Bagian Barat New Guinea (Papua) yang memiliki sistem penerangan maju. Para pedagang yang dengan susah payah berhasil menembus masuk ke pemukiman ini menceritakan kengeriannya pada cahaya penerangan yang sangat terang benderang dari beberapa ‘bulan’ yang ada di atas tiang-tiang di sana. Bola-bola lampu tersebut tampak secara aneh bersinar setelah matahari mulai terbenam dan terus menyala sepanjang malam setiap hari.


The Baghdad Battery

Boleh dikatakan Bagdad Batery merupakan salah satu artifak kuno yang paling membingungkan para ilmuan maupun arkeolog.

Pada tahun 1930 silam, pada sebidang makam kuno di luar Bagdad (Khujut Rabula), beberapa arkeolog yang melakukan penggalian di sana menemukan sebuah artifak yang diduga merupakan satu set baterai kimia yang usianya telah mencapai 2000 tahun lebih!

Arifak aneh tersebut terdiri atas sebuah silinder tembaga, batang besi serta aspal yang disusun sedemikian rupa dalam sebuah jambangan kecil (tinggi 14 cm, diameter 8 cm)yang terbuat dari tanah liat. Setelah para ahli merekaulang memang benar didapati bahwa artifak tsb merupakan sebuah baterai elektrik kuno!

Para peneliti berhasil memperoleh 1.5 voltmeter dari artifak batu baterai elektrik tsb, yang bekerja nonstop selama 18 hari dengan cara memasukkan cairan asam ke dalam jambangannya.


Usia artifak baterai kuno ini diperkirakan berkisar 2.000 - 5.000 tahun, jauh sebelum Alessandro Volta (Italia) membuat baterai pertama kali pada tahun 1800 serta Michael Faraday (Inggris) menemukan induksi elektromagnetik dan hukum elektrolisis pada 1831 yang jarak penemuannya hingga kini mencapai sekitar 200 tahun lebih.

Temuan ini tentunya dapat mengubah pandangan manusia masa kini akan kemajuan teknologi yang telah dicapai oleh peradaban manusia masa lalu. Nampaknya, aktifitas elektrik telah dikenal oleh manusia pada masa-masa itu.

Tidak hanya bagdad battery saja yang menarik perhatian para ilmuan maupun arkeolog di seluruh dunia, namun terdapat beberapa artifak serupa yang diduga juga sebagai peralatan elektrik masa silam, seperti Dendeera Lamps, Assyrian Seal, maupun The coffin of Henettawy.

Sebenarnya Dendeera lamps ini merupakan sebuah relief di sebuah temple di Mesir yang menggambarkan seorang Pharaoh sedang menggenggam sebuah benda mirip dengan bola lampu lengkap dengan penggambaran kabel beserta catu dayanya.

Kutipan:
Sitting in the National Museum of Iraq is a earthenware jar about the size of a man's fist. Its existence could require history books throughout the world to be rewritten.
-Seukuran kepalan tangan manusia
-Dapat merubah seluruh buku sejarah untuk ditulis ulang.

Kutipan:
The little jar in Baghdad suggests that Volta didn't invent the battery, but reinvented it. The jar was first described by German archaeologist Wilhelm Konig in 1938. It is unclear if Konig dug the object up himself or located it within the holdings of the museum, but it is known that it was found, with several others, at a place called Khujut Rabu, just outside Baghdad.
-Bahwa Count Alassandro Volta (1800) tidak "menemukan" tapi "menemukan-ulang"
-Nah ini yang menarik untuk diperdebatkan apakah ini hoax:

"....It is unclear if Konig dug the object up himself or located it within the holdings of the museum, but it is known that it was found....."

ok guys?

Kutipan:
World War II prevented immediate follow-up on the jars, but after hostilities ceased, an American, Willard F. M. Gray of the General Electric High Voltage Laboratory in Pittsfield, Massachusetts, built some reproductions. When filled with an electrolyte like grape juice, the devices produced about two volts
-Dicoba direproduksi di amrik dan menghasilkan sekitar 2 volt (dari situs lain nilainya berkisar antara 1,5 sampai 2 volt)

Kutipan:
Not all scientists accept the "electric battery" description for the jars. If they were batteries, though, who made them and what were they used for?
Lihat khan? bahkan tidak semua scientis menerima benda ini sebagi OOParts.
Saya pernah bahas tentang OOParts di thread lain, silahkan dicari. Salah satunya adalah thread saya tentang Piri Reis Map yang tenggelam

ini gunanya dan ada sedikit kata2 menarik disitu
Kutipan:
Khujut Rabu was a settlement of a people called the Parthians. While the Parthians were excellent fighters, they had not been noted for their technological achievements and some reseachers have suggested they obtained the batteries from someone else. A few people have even suggested that this someone else was a space traveler that visited Earth during ancient times.
-Masih ingat the parthians dalam three hundred? (300)
-"Space traveler"? weleh weleh
Kutipan:
What might they have been used for? German researcher Dr. Arne Eggebrecht used copies of the batteries to electroplate items. The electroplating process uses a small electric current to put a thin layer of one metal (such as gold) on to the surface of another (such as silver). Eggebrecht suggests that many ancient items in museums that are thought to be gold may actually be gold-plated silver.
Berguna untuk melapisi suatu logam dengan logam lain. Dalam arti "disepuh"

http://neros.lordbalto.com/ChapterEight.htm


OLEH: RADEN ARUM SETIA PRIADI, S.Si., M.T.
rasp_1971@yahoo.com

3 Responses to "Teknologi dari Zaman Atlantis hingga Indonesia"

  1. Wow...kok baru tahu,seperti penggambaran teknologi pada film2 klasik..ternyata otak kitalah yang kerdil..

    BalasHapus
  2. Wow...kok baru tahu,seperti penggambaran teknologi pada film2 klasik..ternyata otak kitalah yang kerdil..

    BalasHapus