Latest News

Kejawen Modern

X magazine --- Aritkel ini saya dapat dari blog KejawenModern. Ini pula yang menjadi judul postingan ini. Kenapa saya posting kembali? Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik tentunya.

Orang bijak mengatakan; Elang akan berkumpul dengan elang, domba akan menyatu dengan domba pula. Dan ini pula yang membuat manusia sering kali terkelompok dalam sebuah komunitas. Yakni, biasanya ada sisi kesamaan yang menjadi landasan penyatuan tersebut.

Sehingga, perbedaan lain seperti ras, budaya, warna kulit, bangsa atau bahkan perbedaan alam bukan menjadi persoalan untuk penyatuan. Sederhananya, sebagai contoh, sesama hoby memancing akan menyatu dengan pemancing lain di kolam pancing. Akan terjalin sebuah hubungan emosional keakraban dengan landasan kesamaan hoby tadi. Perbedaan, termasuk status social akan hilang karenanya.

Kesatuan yang paling kuat mengikat adalah cara berpikir, visi, dan pemahaman. Ini pula yang menjadi landasan kuat sebuah organisasi, perkumpulan, kelompok, dan sejenisnya. Seperti, persaudaraan illumanti, triad, atau The New World Order sebuah frase yang membuat orang segera teringat dengan sebuah perkumpulan rahasia yang paling ternama di dunia, yaitu freemasonry.

Mereka mempunyai landasan yang kuat untuk bersatu. Yakni cara berpikir, visi dan pemahaman yang sama.

Kembali kepada Kejawen Modern yang menjadi judul dari artikel ini, ada beberapa kesamaan dalam cara berpikir yang membuat saya tertarik walau pada dasarnya mungkin terdapat ada perbedaan dalam hal lain.

Ok.. sebelumnya langsung saja saya copy paste artikel Kejawen Modern tersebut; Asli tanpa dipenggal/diedit atau ditambahkan. Termasuk cara pemaparannya yang juga menggunakan kata saya, disini maksudnya adalah saya = penulis asli.

Kejawen yang kita kenal, adalah Kejawen yang selalu memiliki bayangan, bahwa hal itu merupakan sesuatu yang kuno, mistis dan ketinggalan zaman.

Oleh karenanya, saya berkepentingan untuk mencoba urun rembug dalam hal ini.

Sebenarnya, saya pun tidak begitu setuju dengan kata Modern di belakang kata Kejawen. Namun demikian, kata Modern tersebut saya tempatkan sebagai Judul dari Blog ini, justru untuk memberikan pencerahan itu sendiri.

Karena menurut saya, kosa kata Modern merupakan sebuah kampanye/propaganda anti Akar Budaya Setempat, sehingga Kedua AS menggunakan pola "Branding" untuk men-dikotomi-kan antara Tradisional (Berdasar Akar Budaya Setempat), dengan Modern (Nilai-nilai yang mereka bawa masuk ke Negara-negara calon Jajahan Pola Pikir Mereka)

Tetapi, untuk memberikan pemahaman tersebut, saya perlu memberikan nama blog saya ini dengan Kejawen-Modern, secara terpisah, yakni untuk memberikan dikotomi, bahwa Kejawen sendiri, dan Modern sendiri.

Sekali lagi untuk berhubungan atau berkomunikasi atau berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa, kita tidak mengenal Modern atau Tradisional. Karena Tuhan Yang Maha Esa - .... ada sebelum kita semua ada, tetap ada setelah kita semua tiada ....

Jadi tidak ada Hubungannya, bahwa Agama yang lebih baru, adalah agama yang lebih baik. Dengan analogi tersebut, sama saja mengatakan Allah mereka mempunyai kemampuan yang sama dengan manusia. Dimana harus mengalami proses penyempurnaan.

Kejawen adalah Agama Lokal tertua di dunia yakhi 4425 tahun sebelum Masehi, sementara Hindu sekitar 3000 tahun sebelum Masehi.

Secara sosiologis, dan sudah dibuktikan, tidak ada satu Agama pun di Dunia yang tidak berawal dari Agama Lokal. Hal ini dikarenakan, tidak ada satu pun Agama yang turun ke Bumi, yang langsung sama persis pelaksanaannya di seluruh Dunia dalam waktu yang bersamaan pula. Singkatnya, semua Agama di dunia membutuhkan waktu sosialisasi untuk pengembangan wilayah cakupan Agama tersebut.

Saya pernah membaca di sebuah Blog, yakni mengenai Sifat Ciptaan Tuhan, dimana disebut bahwa hanya Nyawa dan Nafas yang terbukti Diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa Secara Langsung. Karena Nafas di seluruh dunia seragam, mulai yang dihirup, sampai cara bernafasnya pun sama, juga yang canggih, kita tidak pernah harus belajar Nafas untuk dapat hidup di Bumi ini.

Kalau CiptaanNya Secara Tidak Langsung adalah berbagai hal yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, melalui perantaraan manusia yang di-pintar-kan, seperti tak ubahnya penemuan; Lampu (Wolfram), dan Mesin, dalam disiplin ilmu tehnik, sementara Kitab Suci, dan Agama dapat disebut sebagai disiplin ilmu sastra.

Kembali lagi pada Kejawen-Modern, jadi sesungguhnya tidak ada Kejawen Modern, yang ada adalah Kejawen yang menyesuaikan dengan prilaku manusia pada zamannya.

Catatan :
Kejawen merupakan sebutan orang yang menganut Agami Jawi, seperti juga Muslim untuk orang yang menganut agama Islam, atau Kristiani bagi penganut agama Kristen.


Ok.. kita lanjut lagi versi saya. Saya setuju dengan pendapat tersebut. Sehingga ini pula yang menginspirasi saya untuk menulis.

Agama. Adalah kata sakral yang selalu menjadi bagian pembahasan yang harus penuh kehati-hatian. Sensitivitas bagi pemeluk agama sangat tinggi. Dan tidak boleh salah, karena akan dianggap menista salah satu agama.

Pada dasarnya saya sepakat dengan pemikiran bahwa; Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik. Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.

Yang perlu disadari disini dan harus diakui, sebagian besar dari setiap pemeluk agama adalah warisan dari keturunan dan lingkungan. Artinya, ia akan secara otomatis memeluk agama sesuai dengan dimana ia dilahirkan dan oleh orang tua dari pemeluk agama apa. Jika islam, ya secara otomatis akan menjadi muslim, jika lingkungan dan atau orang tuanya Kristen maka tentu ia akan menjadi kristiani. Atau agama lainnya.

Soal akan tumbuh menjadi baik atau buruk, itu bagian lain. Karakter dan proses hidup akan mengambil bagian dari pembentukan itu. Demikian juga cara berpikir manusia akan senantiasa terbentuk dari pengaruh lingkungan dan proses hidupnya.

Jika dilahirkan di Amerika maka gaya, cara, dan karakternya akan terbentuk sebagaimana orang Amerika pada umunya. Demikian juga ketika di Arab, Africa, Indonesia, atau lainnya.

Lalu yang menjadi persoalan seringkali perbedaan alami ini yang menjadi pertentangan dan cenderung merasa yang paling benar termasuk soal agama tadi. Makanya, harus hati-hati karena sangat sensitive. Dan sebenarnya tidak perlu diperdebatkan.

Cara berpikir lah yang terkadang cenderung mempangaruhi visi dari sebuah agama itu sendiri.

Ketertarikan dengan kejawen, menurut saya--tanpa label agama—adalah; cara pandang dalam memaknai hidup. Dimana terkandung nilai-nilai luhur manusiawi dalam berperi kehidupan sosial. Nilai-nilai luhur dengan pemahaman hakikat yang menonjol sehingga menjadikannya sebagai tuntunan bagi setiap umat manusia, jika tidak dilabeli agama.

Pengkotak kan agama dan label lah yang terkadang cenderung membuat nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap ajaran tidak mampu dilihat oleh kelompok lain. Karena telah terjadi penolakan sebalum melihat.

Kejawen adalah adalah warisan masa lalu tentang hakikat yang mengandung tuntunan nilai-nilai luhur yang diakui nurani kebenaranya. Kejawen adalah sebuah kata untuk menyebut ajaran-ajaran tersebut. Dan kebenaran-kebenaran yang diakui oleh nurani akan benar-benar dapat dilihati oleh setiap insan di bebagai belahan dunia ketika kebenaran-kebenaran tersebut sudah tidak mempunyai label lagi. Kebenaran antara sang khalik dan jiwa ciptaannya.

Sebagai insan Nusantara, sebagai insan Atlantis, sebagai insan Lemuria, sebagai insan sang khalik, saya bangga sebagai pewaris nilai-nilai kebenaran. Bukti kejayaan masa lalu, dapat dilihat melalui ajaran-ajaran kebenaran berbudi luhur nya, yang disebut kejawen bagi pemeluk Agami Jawi.

Budi luhur adalah manifestasi dari kerinduang insan. Kebutuhan bagi setiap ciptaan sang khalik. Bagi setiap pemeluk agama maupun bukan pemeluk agama.

Dan masa kejayaan negeri eden nan sentosa itu akan bangkit kembali, ketika setiap insan pewarisnya mampu melihat nilai-nilai kebenaran dalam bentuk hakikat dan makrifat yang dirindukan kan oleh nurani.

Era Atlantis adalah era modern, modern dalam berpikir dan melihat tanpa batas-batas tertentu.

Bersambung gan…. Sudah pagi…

1 Response to "Kejawen Modern"