Mei 2012
+ -

Sabtu, 19 Mei 2012

Teknologi dari Zaman Atlantis hingga Indonesia

Ilustrasi Atlantis
X MAGAZINE --- Jujur, ada keasikan tersendiri ketika menelusuri tentang misteri Atlantis. Misteri sebuah benua yang hilang dengan sejuta pertanyaan. 
Benarkah, legenda itu ada? Atau hanya sekedar rekaan berbalut imajinasi saja. 
Ada yang menyangkal, namun tidak sedikit pula yang berupaya dengan serius untuk membuktikannya. 

Pakailah Google search engine di URL http://www.google.com/. Gunakan kata kunci ”teknologi atlantis”. Muncullah 99.200 hasil telusur untuk kata kunci itu pada hari Rabu 15 Desember 2009 jam 15.41 wib. Di urutan pertama adalah informasi dari alamat http://aravangel.blogspot.com/2009/01/benua-atlantis-dan-lemuria-yang-telah_27.html dengan ringkasan bahwa bangsa Atlantis lebih mengandalkan fisik, TEKNOLOGI, dan gemar berperang. Bangsa ini mirip dengan bangsa Lemuria yang mempunyai tanah yang subur, masyarakat yang makmur, dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan yang mendalam. Bangsa Atlantean menggunakan crystal secara intensif dalam kehidupan mereka.
Menurut Edgar Cayce, spiritualis Amerika, Kuil Atlantis menempatkan sebuah kristal generator raksasa yang dikelilingi kristal-kristal lain, baik sebagai sumber tenaga, mau pun guna berbagai penyembuhan. Banyak info mengenai Atlantis diperoleh dengan dengan men-channel kristal-kristal ’old soul’ yang pernah digunakan pada zaman Atlantis. Menurut beliau, munculnya Atlantis sebagai suatu peradaban super power pada saat itu (kalau sekarang mirip Amerika Serikat) membuat mereka sangat ingin menaklukkan bangsa-bangsa di dunia, di antaranya Yunani dan Lemuria yang dipandang oleh para Atlantean sebagai peradaban yang kuat.

Berbekal peralatan perang yang canggih serta strategi perang yang baik, invansi Atlantis ke Lemuria berjalan seperti yang diharapkan. Karena sifat Lemuria yang menjunjung tinggi perdamaian, mereka tidak dibekali TEKNOLOGI PERANG secanggih bangsa Atlantean, sehingga dalam sekejap, Lemuria pun jatuh ke tangan Atlantis. Para Lemurian yang berada dalam kondisi terdesak, akhirnya banyak meninggalkan bumi untuk mencari tempat tinggal baru di planet lain yang memiliki karakteristik mirip bumi (diperkirakan Planet Erra /Terra di gugus bintang Pleiades). Teknologi mereka pada saat itu sudah sangat maju. Penguasaan TEKNOLOGI PENJELAJAHAN LUAR ANGKASA mungkin telah dapat mereka realisasikan di jauh hari sebelum perang.

Dari URL http://sariwibowoaang.wordpress.com/2009/07/15/teknologi-bangsa-rama-dan-atlantis/ diperoleh informasi bahwa bangsa Atlantis dan Rama berperang menggunakan senjata pemusnah massal yaitu NUKLIR. Alkisah raja Ashoka dari kerajaan Rama membuat suatu organisasi yang berisi 9 ilmuwan terbaik kerajaan Rama, yang disebut 9 misterious men (kalo di amerika semacam MJ-12). Mereka telah menciptakan 9 buku yang saling berkaitan. Salah satu judulnya adalah RAHASIA-RAHASIA GRAVITASI. Beberapa tahun silam, sekelompok arkeolog China menemukan beberapa dokumen di daerah Lhasa. Mereka membawanya ke Universitas Chandrigradh untuk diterjemahkan. Dr.Ruth Reyna yang menerjemahkan dokumen tersebut kaget bukan kepalang. Karena isi dari dokumen itu adalah petunjuk untuk membuat suatu pesawat ruang angkasa!!! Cara pembuatan menurut dokumen tersebut adalah anti gravitasi dan berasaskan kepada suatu sistem analog yang disebut laghima, semacam sumber tenaga. Menurut seorang ahli yoga hindu, laghima adalah suatu ilmu yang dapat membuat sang penguasanya terbang!! Menurut dokumen ini,  kendaraan terbang itu disebut ASTRAS, dan astras-atras  itu yang telah membawa sebagian penduduk Rama untuk bermukim di planet lain. Dokumen tersebut bahkan memaparkan rahasia ilmu lain seperti antima (menghilang),  gerima (menjadi seberat gunung). Pada awalnya para ilmuwan India tidak terlalu menganggap serius dokumen ini, tetapi mereka terkejut ketika RRC memasukkan sebagian isi dokumen tersebut untuk proyek luar angkasanya!!!

Dokumen ini didukung oleh cerita di dalam Ramayana yang menceritakan perjalan mendetail mereka ke bulan. Kota kerajaan Rama pun diceritakan mempunyai tata landscape dan pembuangan air yang sangat modern.  Ingat cerita Nabi Sulaiman?? Menurut Al – Qur’an  istana beliau seperti mengawang di atas air, dan mukjizat Nabi yang bisa terbang???

Menurut penjelasan teks India kuno,  mereka mempunyai kendaraan terbang yang disebut VIMANA. Digambarkan bahwa vimana mempunyai dua dek,  berbentuk bulat,  mempunyai lubang di bagian bawah,  dan menara di bagian atas. Disebutkan ada 4 macam vimana, dari yang berbentuk piringan sampai dengan yang seperti silinder. Bahkan banyak ditemukan juga manual penerbangan vimana tersebut. Pada tahun 1875, ditemukan kitab berjudul Vaimanika Sastra. Di dalamnya berisi tentang manual penerbangan vimana, langkah penyelamatan, penerbangan jauh, bahkan tentang bagaimana cara selamat dari petir.

Lanjutan dari kitab Vaimanika Sastra di atas, di sana dijelaskan kelemahan dan kekurangan dari ke-empat jenis vimana tersebut.  Diterangkan pula mengenai 31 bagian dalam Vimana tersebut,  juga 16 sumber tenaga untuk menyerap panas sinar matahari untuk menggerakkan Vimana tersebut. Dokumen ini telah disunting pada tahun 1979 ke dalam bahasa Inggris oleh E.N. Joser. Tidak ada keraguan lagi bahwa Vimana memang menggunakan teknologi anti gravitasi, karena vimana mampu take off secara melintang dan mempunyai mobilitas seperti helicopter (bahkan lebih hebat lagi).  Diceritakan vimana diangkut oleh vimana griha (mungkin semacam pesawat induk), dan vimana ini dicat dengan cat berwana putih kekuningan, dan kadangkala dengan sejenis zat merkuri. Zat kekuningan ini mungkin adalah gaselin.

Anda pernah lihat film hellboy?? Di sana diceritakan tentang NAZI yang berusaha menguasai tenaga mistis yang lebih maju untuk mendapatkan kekuatan yang lebih hebat lagi. Ternyata konon hal ini emang benar terjadi. Hitler diceritakan sangat tertarik oleh peradaban kuno yang terletak di sekitar daerah India – Tibet (daerah kerajaan Rama).  Pasukan ekspedisi pun kabarnya sering dikirim ke sana sekitar tahun 30-an.Tidak mustahil tentunya jika pihak Nazi berhasil mengadopsi beberapa teknologi ini.  Contohnya pesawat pertama yang dapat take off secara melintang  juga ditemukan oleh NAZI.

Merujuk pada Dravnaparva yang merupakan bagian dari epiks Mahabrata dan Ramayana, Vimana digambarkan sebagai sebuah bujur yang mempunyai kecepatan angin yang berasal dari bahan merkuri. Di dalam kitab Samarasanganasutradhara juga dijelaskan mengenai vimana dan bahan bakarnya, merkuri. Banyak ilmuwan Rusia yang heran ketika menemukan panduan mengendarai kendaraan (bukan menunggangi kuda atau semacamnya) di gua di gurun Gobi dan Turki. Di relief itu digambarkan sebuah benda yang sedang terbang dengan lambang merkuri di dalamnya. Coba kita perhatikan cuplikan dari kitab Mahawira dan Bhawabhuti yang berasal dari abad ke-8 di bawah ini :

“…..sebuah kendaraan udara, Pushpaka membawa banyak orang ke ibukota Ayodhya. Langit dipenuhi berbagai kendaraan terbang, gelap bagai malam, namun terang karena warna kekuningan mereka……”

Deskripsi mengenai vimana dari satu kitab ke kitab lain secara garis besar adalah sama.  Jadi bisa disimpulkan bahwa vimana bukanlah khayalan. Ternyata bangsa Atlantis juga mempunyai sebuah alat terbang. Alat ini dinamakan VAILIXI. Orang India menyebutnya Astwin. Sayangnya tidak ada penjelasan mengenai vailixi ini sendiri yang bisa kita temukan di Atlantis (sekarang lokasi Atlantis-nya sudah diketemukan),  justru bukti tentang adanya vailixi ini diperoleh lagi-lagi dari kitab India kuno. Dideskripsikan vailixi berbentuk silinder panjang yang selain bisa terbang juga dapat menyelam di laut!!! Menurut Eklal Kueshshana, dalam bukunya “the ultimate frontier” pada tahun 1966, vailixi yang pertama dibuat sekitar 20.000 tahun lalu.  Bentuk yang paling umum adalah piringan dengan tiga ruang mesin. 

Menurutnya “Mereka menggunakan satu peralatan mekanikal yang anti gravitasi yang memiliki tenaga sekitar 80.000 ekor kuda”.

Atlantis - The Lost Continent Finally Found -

This site presents a new theory on Atlantis by a Brazilian scientist, Prof. Arysio Santos, which he discovered in the Indian Ocean. www.atlan.org 

Atlantis, The Lost Continent Finally Found, released on August 2005, is Prof. Arysio Santos' latest work. Following the same line of thought that made his homonymous website become the most popular in its category, having received more than 2.5 million visits within the past few years, he explains in this book his Theory on Atlantis, using an infinitude of arguments, which range from the strictly scientific (such as Geology, Linguistics, and Anthropology) to the more arcane and occult ones.

A professional scientist with a PhD in Nuclear Physics and Free-Docency in Physical-Chemistry, the author has dedicated himself intensely to the study of the Atlantis problem, for about 30 years now. Being the first one to ever link the catastrophic events of the end of the last Ice Age (11.600 years ago) with the world-wide traditions of the universal Flood and the destruction of Atlantis, Prof. Santos managed to find a perfect site for the location of the Lost Continent. Such site strives unrivaled as being the most logical one ever proposed, matching all the features mentioned by the Greek philosopher Plato, as well as those cited by other sources.

The reader will be confronted with strongly based evidence of all sorts to the existence of Atlantis, written by a reputed scientist, enough to shake the beliefs of the most hard-core skeptic. This book should also please the fans of the occult and symbolic disciplines, as the author frequently interconnects them with Atlantis and explains their meaning. Illustrated with over 30 line-art figures and printed in high quality white paper, Prof. Santos’ book is a must for everyone interested in the subject of Atlantis and lost civilizations.

Dikatakan di buku itu Indonesia adalah True Site of Eden. Indonesian adalah Atlantis and the Four Rivers of Paradise. Indonesia adalah the Remnants of Sunken Atlantis. Ini amat mengejutkan. Dari URL http://www.atlan.org/articles/checklist/

17) SUPERIOR SCIENCE AND TECHNOLOGY


The only hard evidence given by Plato of a superior technology utilized by the Atlanteans consists in the use of ORICHALC, the mysterious metal which "flashed like fire" and which they used to clad the walls of their citadel. As we adduced above (see item 16) orichalc — or aurichalcum, that is "golden copper", as Pliny wrote — is BRASS, an alloy of copper and zinc of a beautiful golden colour and superior mechanical properties. The MANUFACTURE OF BRASS was a technological feat that could only be repeated in modern times due to the difficulties inherent in the process. The fact that the Atlanteans could mass produce this alloy is a direct proof of their superior science and technology. So is, for that matter, the fact that they could mass produce metals and gemstones in quantity sufficient to supply the ancient nations with these items so difficult to procure and to process in the primitive conditions that were then prevalent.

The proofs of a superior science and technology possessed by the Atlanteans are of a twofold nature: traditional and factual. In the traditional account we have the legends and myths like those on wonderful flying machines like the VIMANAS and the VAHANAS of the Ramayana and the Mahabharata. These holy books talk of airships capable of carrying entire armies; of weapons (agniastras) that can only have been firearms and of explosives that, like the atomic weapons, were able to wipe out entire cities. They tell of TALKING MACHINES capable of making forecasts and of allowing the viewing of distant persons. They also speak of teleportation, of telepathy, of levitation, of transmutation of the metals, of the effortless erection of megalithic buildings and structures such as the Great Pyramid. Such "magical means" bespeak of a superior science and technology. Furthermore, those sacred traditions even suggest the use of GENETIC ENGINEERING to create the domesticated plants and animals, if not a sub-species of men intended for specific purposes like that of "serving the gods".

Superior metallic alloys such as stainless steel, bronze and brass ("orichalc") have existed from remotest antiquity. And no one has been able so far to give a satisfactory account of the epoch of their invention or of their place of origin. Where else but in Atlantis, the true site of the Garden of Eden? Crucial inventions like the domesticated plants and animals, the alphabet, scripture, paper, gunpowder, metal-casting and smelting, brewing and distillation, medicinal drugs, ELECTROPLATING, lenses, telescopes and eyeglasses, stone cutting and shaping, and a myriad such "magical creations" apparently came to us from nowhere. In the official accounts, they came from an unlikely "China". But China was itself civilized, as were most ancient nations, by the Hindus. The Hindus, in turn, claim to have been civilized by the Atlantean Nagas. Are they all indeed telling a lie or the truth? And why would the ancients all be lying?

In our opinion, the greatest achievement of the ancient Atlanteans lay in THE SOCIAL AND METAPHYSICAL SCIENCES: Religion, Philosophy, Ethics, Law, Mythology, Psychology and so on. Whoever studies in depth the true scope of Greek philosophy — as expounded by philosophers such as Plato, Pythagoras, Aristotle, Epicurus, Zeno, Thales, Anaxagoras and several others — will not fail to realize that their esoteric doctrines all root in the Hindu darshanas (philosophical systems). The profundity of these Indian sciences so far surpass the ones of the Occident that it is only as the result of being blinded by ethnocentrism that our experts have failed to realize the fact that our religions and our philosophical systems all came to us from the ORIENT. Now, this could only have happened in the dawn of times, precisely as our Holy Books and our sacred traditions maintain. All these "Hindu" doctrines, in turn, root in ancient treatises ascribed to legendary authors of antediluvian times which can be none other than those of Atlantis itself.

Religion too — perhaps the greatest of all creations of Man — can only have originated in Paradise, that is, in Atlantis itself. This is easy to see not only in the ancient traditions of its revelation by gods or angels or superior beings (Atlanteans), but also by the fact that all religions stem from a single source, the Urreligion (or "Primeval Religion") envisaged by certain specialists of genius such as Mircea Eliade and René Guénon. Mythology is yet another Atlantean creation that provides the archetypes and the exemplary models of behavior and mentality that we all follow rather blindly and instinctively during our lifetime. Most myths deal with Atlantis and Atlantean matters, and enmesh serendipitously with the eschatological doctrines of our religions.

Where else but in destroyed Atlantis could myths such as those of the Flood or that of the Millennium and THE REBIRTH OF THE CELESTIAL JERUSALEM (ATLANTIS) have originated? Who else but the Atlanteans could have diffused myths such as these to the whole world, including the remotest corners of the Amazon jungle and those of INDONESIA AND SOUTH ASIA? The fact is that all supreme inventions — the ones that turned Man into something more than an ape or a ravening beast — came to us from Atlantis, in the dawn of times. The one invention which allowed all others was that of agriculture, the supreme legacy of the ancient Atlanteans to us. It was agriculture that allowed the fixation of Man to the ground, and guaranteed the availability of food with far less labor than that required in hunting and gathering foodstuffs.

Agriculture created the surplus time for thinking and for the development of inventions and creations that allowed us to rise over the other beasts of the field. But when we talk of agriculture and of animal domestication we cannot forget that these activities were only rendered possible by the artificial creation of species and strains of a very particular nature. Such developments require the use of advanced GENETIC ENGINEERING quite like or even superior to the modern ones. With its peculiar arrogance, modern science has been utterly incapable of creating even a single example of domesticated plant or animal beyond the ones we inherited from the dawn of times, the epoch of our Atlantean forefathers. Many of these plants and animals — in particular the dog, the pig, the goat, maize, wheat, barley, cotton, coconuts, pineapples, yam, potatoes, bananas, grapes and many others — existed both in the Old and in the New World.

Moreover, many of these responded by the same name on both sides of the world. Who else but the Atlantean Sons of God could have created them and brought them to the other distant nations of the world? This is precisely what the holiest traditions of all peoples claim, the world over. Why would they all lie such a crucial issue as this one? Moreover, when we seek the true place of origin of all these magnificent creations of men or gods, we verify that they have been always present and apparently came from nowhere. The specialists are hard put to tell the date and the place of their origin, and their researches push them all, evermore, towards the Far East, the true place of origin of agriculture and of civilization. Other sciences that clearly prove the existence of Atlantis are those of ASTRONOMY and GEODESY. Some ancient maps of the world, such as those of Piri Reis and of Oronteus Finaeus, embody an uncanny knowledge of the whole world that could not have been obtained at all without a sophisticate system of cartography and geodesy.

And this, in turn, requires an advanced knowledge of SPHERICAL TRIGONOMETRY, of logarithms, of projective geometry and of related sciences. Moreover, this precision mapping requires the use of very accurate instruments like chronometers, telescopes, sextants, armillary spheres, and so on, for the determination of the stellar coordinates and of the position of the observer at the time of observation. The creation of such INSTRUMENTS again requires an ADVANCED SCIENCE AND TECHNOLOGY in fields such as optics, metallurgy and materials science. Who else but the Atlanteans could have possessed this technology so early in time? The same amazing precision and superior science obtains in the case of Astronomy.

The ancients knew — but clearly lacked the capability for having discovered such facts — about the two moons of Mars, the twelve of Jupiter, the ten of Saturn. Moreover, they knew of the heliocentricity of the Solar System, of the nine planets, and the rings of Saturn, as well as of the fact that Sirius, the largest star in the sky, has a invisible twin of extremely high density. These and many other astronomical facts can only be observed with very large telescopes and very refined observational techniques. Such instruments and techniques could only have been developed by the Atlanteans and by no other nation, barring extra-terrestrials and angelic powers.

The ancients were also capable of calculating and effecting stellar alignments of an amazing precision. Their accuracy sometimes exceeds what modern astronomers can do, even with THE BEST OF COMPUTER PROGRAMS. They had an almost superior ability to predict astronomical dates and ephemerides both in the distant past and in the distant future. These dates they unequivocally indicated by means of accurate alignments embedded in the Great Pyramid and in other artifacts that many traditions attribute to the Atlanteans. Likewise, the Great Pyramid also embodies such geodetical measurements as the lengths of the Polar Meridian and the Equatorial Circle to a precision that favorably compares to those obtained recently by geodetical satellites. We discuss these matters in detail in our book on Atlantis, to which we refer the interested reader.

KOMPUTER


Prof. Arysio Santos sudah menyatakan adanya program komputer terbaik untuk kalkulasi dan efek presisi mengagumkan dari stellar alignments. Wujud komputer yang kita kenali sekarang terdiri atas logam, plastik, kaca, keramik, dan lain-lain. Apakah komputer zaman Atlantis serupa? Baiklah mari kita lanjutkan pembahasan.

Logam yang berasal dari zaman Atlantis adalah orichalc atau brass. Orichalc adalah metal yang ber-flash seperti api, disebut juga sebagai aurichalcum (golden copper). Brass adalah alloy dari tembaga dan seng, berwarna keemasan indah dan properti mekanikal superior.

Dari berbagai sumber, secara umum dapat digambarkan berbagai macam teori dan penelitian mengenai subyek ini memberikan beberapa bahan kajian yang menarik. Antara lain adalah:


  • Atlantis dan Dinasti Rama pernah mengalami masa keemasan (Golden Age) pada saat yang bersamaan (30000-15000 BC).
  • Keduanya sudah menguasai teknologi nuklir.
  • Keduanya memiliki teknologi dirgantara dan aeronautika yang canggih hingga memiliki pesawat berkemampuan dan berbentuk seperti UFO (berdasarkan beberapa catatan) yang disebut Vimana (Rama) dan Valakri (Atlantis).
  • Penduduk Atlantis memiliki sifat agresif dan dipimpin oleh para pendeta (enlighten priests), sesuai naskah Plato.
  • Dinasti Rama memiliki tujuh kota besar (Seven Rishi's City) dengan ibukota Ayodhya dimana salah satu kota yang berhasil ditemukan adalah Mohenjo-Daroo.
  • Persaingan dari kedua peradaban tersebut mencapai puncaknya dengan menggunakan senjata nuklir.
  • Para ahli menemukan bahwa pada puing-puing maupun sisa-sisa tengkorak manusia yang ditemukan di Mohenjo-Daroo mengandung residu radio-aktif yang hanya bisa dihasilkan lewat ledakan Thermonuklir skala besar.

Tahun 1972 silam, ada sebuah penemuan luar biasa yang barangkali bisa semakin memperkuat dugaan bahwa memang benar peradaban masa silam telah mengalami era Nuklir yaitu penemuan tambang Reaktor Nuklir berusia dua miliyar tahun di Oklo, Republik Gabon.


Pada tahun 1972, ada sebuah perusahaan (Perancis) yang mengimpor biji mineral uranium dari Oklo di Republik Gabon, Afrika untuk diolah. Mereka terkejut dengan penemuannya, karena biji uranium impor tersebut ternyata sudah pernah diolah dan dimanfaatkan sebelumnya serta kandungan uraniumnya dengan limbah reaktor nuklir hampir sama. Penemuan ini berhasil memikat para ilmuwan yang datang ke Oklo untuk suatu penelitian, dari hasil riset menunjukkan adanya sebuah reaktor nuklir berskala besar pada masa prasejarah, dengan kapasitas kurang lebih 500 ton biji uranium di enam wilayah, diduga dapat menghasilkan tenaga sebesar 100 ribu watt. Tambang reaktor nuklir tersebut terpelihara dengan baik, dengan lay-out yang masuk akal, dan telah beroperasi selama 500 ribu tahun lamanya.

Yang membuat orang lebih tercengang lagi ialah bahwa limbah penambangan reaktor nuklir yang dibatasi itu, tidak tersebar luas di dalam areal 40 meter di sekitar pertambangan. Kalau ditinjau dari teknik penataan reaksi nuklir yang ada, maka teknik penataan tambang reaktor itu jauh lebih hebat dari sekarang, yang sangat membuat malu ilmuwan sekarang ialah saat kita sedang pusing dalam menangani masalah limbah nuklir, manusia zaman prasejarah sudah tahu cara memanfaatkan topografi alami untuk menyimpan limbah nuklir!

Tambang uranium di Oklo itu kira-kira dibangun dua miliar tahun, setelah adanya bukti data geologi, dan tidak lama setelah menjadi pertambangan maka dibangunlah sebuah reaktor nuklir ini. Mensikapi hasil riset ini maka para ilmuwan mengakui bahwa inilah sebuah reaktor nuklir kuno, yang telah mengubah buku pelajaran selama ini, serta memberikan pelajaran kepada kita tentang cara menangani limbah nuklir. Sekaligus membuat ilmuwan mau tak mau harus mempelajari dengan serius kemungkinan eksistensi peradaban prasejarah itu, dengan kata lain bahwa reaktor nuklir ini merupakan produk masa peradaban umat manusia.

Seperti diketahui, penguasaan teknologi atom oleh umat manusia baru dilakukan dalam kurun waktu beberapa puluh tahun saja, dengan adanya penemuan ini sekaligus menerangkan bahwa pada dua miliar tahun yang lampau sudah ada sebuah teknologi yang peradabannya melebihi kita sekarang ini, serta mengerti betul akan cara penggunaannya. Hal yang patut membuat orang termenung dalam-dalam ialah bahwa mengapa manusia zaman prasejarah yang memiliki sebuah teknologi maju tidak bisa mewariskan teknologinya, malah hilang tanpa sebab, yang tersisa hanya setumpuk jejak saja. Lalu bagaimana kita menyikapi atas penemuan ini? Permulaan sebelum dua miliar tahun hingga satu juta tahun dari peradaban manusia sekarang ini terdapat peradaban manusia. Dalam masa-masa yang sangat lama ini terdapat berapa banyak peradaban yang demikian ini menuju ke binasaan?

Jika kita abaikan terhadap semua peninggalan-peninggalan peradaban prasejarah ini, sudah barang tentu tidak akan mempelajarinya secara mendalam, apalagi menelusuri bahwa mengapa sampai tidak ada kesinambungannya, lebih-lebih untuk mengetahui penyebab dari musnahnya sebuah peradaban itu. Dan apakah perkembangan dari ilmu pengetahuan dan teknologi kita sekarang akan mengulang seperti peradaban beberapa kali sebelumnya? Betulkah penemuan ini, serta mengapa penemuan-penemuan peradaban prasejarah ini dengan teknologi manusia masa kini begitu mirip?
Semua masalah ini patut kita renungkan dalam-dalam.

Teknologi mesir jaman dulu saja sudah mampu menciptakan lampu pijar.
Bagi kalian yang sudah membaca buku Best Seller "Chariots of the Gods" karya Erich Von Daniken, pastinya sudah tidak asing lagi dengan beberapa hipotesa maupun teori-teori spektakuler mengenai "ancient visitor /ancient astronout" dan "search for ancient technology" yang secara gamblang dikemukakan oleh Daniken.

Menurut pandangan masyarakat umum, masa peradaban-peradaban kuno ribuan bahkan jutaan tahun lalu, merupakan masa peradaban yang sangat jauh dari kesan kecanggihan teknologi serta penguasaan ilmu pengetahuan yang mendalam, tidak sedalam dengan penguasaan IPTEK manusia masa kini (singkatnya: masih terbelakang alias primitif).

Namun, penemuan saintis dan ahli arkeologi sejak beberapa tahun belakangan ini seolah-olah menghilangkan pandangan umum bahwa peradaban-peradaban masa silam adalah peradaban-peradaban yang terbelakang, penguasaan ilmu pengetahuan yang masih payah dan memiliki kesan yang jauh dari teknologi.

Malahan, para saintis kini semakin kebingungan memikirkan penemuan artifak-artifak purba yang menjurus kepada kenyataan bahwa peradaban-peradaban kuno sebenarnya sudah begitu maju dari segi sains dan teknologi malah mungkin lebih futuristik daripada zaman sekarang!

Kenyataan itu memang sukar dipercayai karena tolak ukur era perkembangan sains dan teknologi baru bermula sekitar 200 tahun lalu dan teknologi komputer berasaskan elektronik baru mulai sekitar tahun 1940-an.

Akan tetapi, artifak purba serta catatan kuno yang berhasil ditemukan para arkeolog justru menceritakan sebaliknya - masyarakat zaman purba sudah memiliki teknologi hebat serta maju dalam berbagai bidang terutama sains.

Penemuan-penemuan arkeologis yang mengagumkan seperti penemuan jantung buatan yang berhasil ditemukan pada suatu mummi dari masa peninggalan peradaban Mesir kuno contohnya, bukankah itu merupakan suatu bukti kongkrit bahwa peradaban mesir kuno pada ribuan tahun silam telah menguasai ilmu sains dan kedokteran setinggi itu.
padahal kita ketahui, sejarah ilmu kedokteran pada masa kini baru bisa memperkenalkan konsep jantung buatan pada beberapa puluh tahun lalu, tetapi dari penemuan di atas tadi diketahui jantung buatan ternyata telah diperkenalkan sejak 5000 tahun silam.

Selain itu, ada beberapa temuan yang mengindikasikan bahwa masa sebelum masehi manusia telah mengenal peralatan-peralatan listrik. Contohnya penemuan artifak "The Baghdad Battery" yang pernah dibahas di sini, bukankah itu juga merupakan salah satu peralatan elektrik masa silam yang berhasil ditemukan.


Tentunya kedua artifak tersebut mungkin belumlah cukup untuk membuktikan teori "ancient electricity" yang dikemukakan oleh beberapa pakar seperti Daniken.

Tetapi tahukah teman-teman, bahwa sudah cukup banyak temuan yang bisa dijadikan bukti bahwa peradaban manusia masa sebelum masehi telah mengenal listrik maupun peralatan listrik?

Berawal dari para arkeolog yang terkesan dengan kerapian penyusunan interior dan keindahan relief lukisan dinding-dinding di dalam piramid Mesir. Lalu kemudian mereka menyadari, bahwa tanpa adanya alat penerangan maka bagaimana para pekerja maupun senimannya dapat melakukan pekerjaannya?

Jika demikian, maka seharusnya ada alat penerangan. Tetapi yang membingungkan mereka adalah tak pernah ditemukan adanya jelaga atau bekas-bekas sisa pembakaran api sebagaimana lazimnya alat penerangan kuno (obor, lilin, lampu minyak). Lantas teknik penerangan apa yang mereka gunakan pada masa itu?

Di dalam suatu ruang di bawah Kuil Dendera, sebuah kuil yang terletak di sebelah selatan Luxor (Mesir) dan dibangun oleh firaun Mesir untuk memuja Dewi Hathor pada 4.200 tahun yang lalu, terdapat relief-relief yang menggambarkan semacam alat penerangan berupa bola lampu lonjong berukuran besar.

Bagian kepala bola lampu disangga oleh dudukan dengan per pegas yang tampaknya dapat berfungsi untuk menaikkan atau menurunkan arah (sorotan) lampu. Sedangkan bagian ujung lainnya terhubung dengan semacam pipa melengkung ke kotak dasar alat penerangan tersebut. Walaupun seandainya gambar tersebut merupakan simbol, tetapi bagaimana masyarakat pada masa itu dapat membuat desain teknis semacam itu?

Yang cukup hebat adalah ketika Erich Von Daniken bersama beberapa tim saintis lainnya berhasil menciptakan sebuah replika bola lampu yang benar-benar ditiru dari desain relief di temple Dendera itu.

Ekspresimen ini mereka lakukan untuk mengetahui kegunaan sebenarnya dari benda yang dipegang oleh Sang Fir'aun tersebut, apakah benar-benar merupakan semacam alat penerangan, atau hanya sebatas simbol semata.

Sebelumnya, mereka terlebih dahulu harus bisa mengidentifikasi beberapa simbol obyek dalam relief-relief itu sebagai penuntun dalam pembuatannya.

Dari beberapa sumber, inilah hasil identifikasi dari setiap obyek-obyek dalam relief tersebut :

Ket:
1.
Priest
2. ionised fumes
3. electric discharge (snake)
4. Lamp socket (Lotos)
5. Cable (Lotos stem)
6. Air god
7. Isolator (Djed-Pillar)
8. Light bringer Thot with knifes
9. Symbol for "current"
10. Inverse polarity (Haarpolarität +)
11. Energy storage (electrostatic Generator?)


Beberapa Temuan "Mirip" Lainnya :

Tahun 1601, seorang pendeta dan pencatat perjalanan para pelaut penjelajah Spanyol bernama Barco Centenera memberitakan tentang sebuah kota di tengah belantara Amerika Selatan yang dihuni penduduk Inca bernama El Gran Moxo, dekat hulu Rio (sungai) Paraguai, bagian tengah Matto Grosso (kini adalah sebelah barat kota Diamantino) yang memiliki sebuah ‘bulan’ (bola lampu) menakjubkan di atas sebuah tiang setinggi 7,75 meter. Bola lampu ini berdiameter sekitar 10 kaki dan bersinar sangat terang.

Pada sebuah konferensi tentang lampu jalan dan lalu lintas tahun 1963 di Pretoria (Afrika Selatan), C.S. Downey mengemukakan tentang sebuah pemukiman terisolir di tengah hutan lebat Pegunungan Wilhelmina (Peg. Trikora) di Bagian Barat New Guinea (Papua) yang memiliki sistem penerangan maju. Para pedagang yang dengan susah payah berhasil menembus masuk ke pemukiman ini menceritakan kengeriannya pada cahaya penerangan yang sangat terang benderang dari beberapa ‘bulan’ yang ada di atas tiang-tiang di sana. Bola-bola lampu tersebut tampak secara aneh bersinar setelah matahari mulai terbenam dan terus menyala sepanjang malam setiap hari.


The Baghdad Battery

Boleh dikatakan Bagdad Batery merupakan salah satu artifak kuno yang paling membingungkan para ilmuan maupun arkeolog.

Pada tahun 1930 silam, pada sebidang makam kuno di luar Bagdad (Khujut Rabula), beberapa arkeolog yang melakukan penggalian di sana menemukan sebuah artifak yang diduga merupakan satu set baterai kimia yang usianya telah mencapai 2000 tahun lebih!

Arifak aneh tersebut terdiri atas sebuah silinder tembaga, batang besi serta aspal yang disusun sedemikian rupa dalam sebuah jambangan kecil (tinggi 14 cm, diameter 8 cm)yang terbuat dari tanah liat. Setelah para ahli merekaulang memang benar didapati bahwa artifak tsb merupakan sebuah baterai elektrik kuno!

Para peneliti berhasil memperoleh 1.5 voltmeter dari artifak batu baterai elektrik tsb, yang bekerja nonstop selama 18 hari dengan cara memasukkan cairan asam ke dalam jambangannya.


Usia artifak baterai kuno ini diperkirakan berkisar 2.000 - 5.000 tahun, jauh sebelum Alessandro Volta (Italia) membuat baterai pertama kali pada tahun 1800 serta Michael Faraday (Inggris) menemukan induksi elektromagnetik dan hukum elektrolisis pada 1831 yang jarak penemuannya hingga kini mencapai sekitar 200 tahun lebih.

Temuan ini tentunya dapat mengubah pandangan manusia masa kini akan kemajuan teknologi yang telah dicapai oleh peradaban manusia masa lalu. Nampaknya, aktifitas elektrik telah dikenal oleh manusia pada masa-masa itu.

Tidak hanya bagdad battery saja yang menarik perhatian para ilmuan maupun arkeolog di seluruh dunia, namun terdapat beberapa artifak serupa yang diduga juga sebagai peralatan elektrik masa silam, seperti Dendeera Lamps, Assyrian Seal, maupun The coffin of Henettawy.

Sebenarnya Dendeera lamps ini merupakan sebuah relief di sebuah temple di Mesir yang menggambarkan seorang Pharaoh sedang menggenggam sebuah benda mirip dengan bola lampu lengkap dengan penggambaran kabel beserta catu dayanya.

Kutipan:
Sitting in the National Museum of Iraq is a earthenware jar about the size of a man's fist. Its existence could require history books throughout the world to be rewritten.
-Seukuran kepalan tangan manusia
-Dapat merubah seluruh buku sejarah untuk ditulis ulang.

Kutipan:
The little jar in Baghdad suggests that Volta didn't invent the battery, but reinvented it. The jar was first described by German archaeologist Wilhelm Konig in 1938. It is unclear if Konig dug the object up himself or located it within the holdings of the museum, but it is known that it was found, with several others, at a place called Khujut Rabu, just outside Baghdad.
-Bahwa Count Alassandro Volta (1800) tidak "menemukan" tapi "menemukan-ulang"
-Nah ini yang menarik untuk diperdebatkan apakah ini hoax:

"....It is unclear if Konig dug the object up himself or located it within the holdings of the museum, but it is known that it was found....."

ok guys?

Kutipan:
World War II prevented immediate follow-up on the jars, but after hostilities ceased, an American, Willard F. M. Gray of the General Electric High Voltage Laboratory in Pittsfield, Massachusetts, built some reproductions. When filled with an electrolyte like grape juice, the devices produced about two volts
-Dicoba direproduksi di amrik dan menghasilkan sekitar 2 volt (dari situs lain nilainya berkisar antara 1,5 sampai 2 volt)

Kutipan:
Not all scientists accept the "electric battery" description for the jars. If they were batteries, though, who made them and what were they used for?
Lihat khan? bahkan tidak semua scientis menerima benda ini sebagi OOParts.
Saya pernah bahas tentang OOParts di thread lain, silahkan dicari. Salah satunya adalah thread saya tentang Piri Reis Map yang tenggelam

ini gunanya dan ada sedikit kata2 menarik disitu
Kutipan:
Khujut Rabu was a settlement of a people called the Parthians. While the Parthians were excellent fighters, they had not been noted for their technological achievements and some reseachers have suggested they obtained the batteries from someone else. A few people have even suggested that this someone else was a space traveler that visited Earth during ancient times.
-Masih ingat the parthians dalam three hundred? (300)
-"Space traveler"? weleh weleh
Kutipan:
What might they have been used for? German researcher Dr. Arne Eggebrecht used copies of the batteries to electroplate items. The electroplating process uses a small electric current to put a thin layer of one metal (such as gold) on to the surface of another (such as silver). Eggebrecht suggests that many ancient items in museums that are thought to be gold may actually be gold-plated silver.
Berguna untuk melapisi suatu logam dengan logam lain. Dalam arti "disepuh"

http://neros.lordbalto.com/ChapterEight.htm


OLEH: RADEN ARUM SETIA PRIADI, S.Si., M.T.
rasp_1971@yahoo.com
5 Xmagazine: Mei 2012 Ilustrasi Atlantis X MAGAZINE --- Jujur, ada keasikan tersendiri ketika menelusuri tentang m...

Minggu, 13 Mei 2012

Kejawen Modern

X magazine --- Aritkel ini saya dapat dari blog KejawenModern. Ini pula yang menjadi judul postingan ini. Kenapa saya posting kembali? Ada beberapa hal yang membuat saya tertarik tentunya.

Orang bijak mengatakan; Elang akan berkumpul dengan elang, domba akan menyatu dengan domba pula. Dan ini pula yang membuat manusia sering kali terkelompok dalam sebuah komunitas. Yakni, biasanya ada sisi kesamaan yang menjadi landasan penyatuan tersebut.

Sehingga, perbedaan lain seperti ras, budaya, warna kulit, bangsa atau bahkan perbedaan alam bukan menjadi persoalan untuk penyatuan. Sederhananya, sebagai contoh, sesama hoby memancing akan menyatu dengan pemancing lain di kolam pancing. Akan terjalin sebuah hubungan emosional keakraban dengan landasan kesamaan hoby tadi. Perbedaan, termasuk status social akan hilang karenanya.

Kesatuan yang paling kuat mengikat adalah cara berpikir, visi, dan pemahaman. Ini pula yang menjadi landasan kuat sebuah organisasi, perkumpulan, kelompok, dan sejenisnya. Seperti, persaudaraan illumanti, triad, atau The New World Order sebuah frase yang membuat orang segera teringat dengan sebuah perkumpulan rahasia yang paling ternama di dunia, yaitu freemasonry.

Mereka mempunyai landasan yang kuat untuk bersatu. Yakni cara berpikir, visi dan pemahaman yang sama.

Kembali kepada Kejawen Modern yang menjadi judul dari artikel ini, ada beberapa kesamaan dalam cara berpikir yang membuat saya tertarik walau pada dasarnya mungkin terdapat ada perbedaan dalam hal lain.

Ok.. sebelumnya langsung saja saya copy paste artikel Kejawen Modern tersebut; Asli tanpa dipenggal/diedit atau ditambahkan. Termasuk cara pemaparannya yang juga menggunakan kata saya, disini maksudnya adalah saya = penulis asli.

Kejawen yang kita kenal, adalah Kejawen yang selalu memiliki bayangan, bahwa hal itu merupakan sesuatu yang kuno, mistis dan ketinggalan zaman.

Oleh karenanya, saya berkepentingan untuk mencoba urun rembug dalam hal ini.

Sebenarnya, saya pun tidak begitu setuju dengan kata Modern di belakang kata Kejawen. Namun demikian, kata Modern tersebut saya tempatkan sebagai Judul dari Blog ini, justru untuk memberikan pencerahan itu sendiri.

Karena menurut saya, kosa kata Modern merupakan sebuah kampanye/propaganda anti Akar Budaya Setempat, sehingga Kedua AS menggunakan pola "Branding" untuk men-dikotomi-kan antara Tradisional (Berdasar Akar Budaya Setempat), dengan Modern (Nilai-nilai yang mereka bawa masuk ke Negara-negara calon Jajahan Pola Pikir Mereka)

Tetapi, untuk memberikan pemahaman tersebut, saya perlu memberikan nama blog saya ini dengan Kejawen-Modern, secara terpisah, yakni untuk memberikan dikotomi, bahwa Kejawen sendiri, dan Modern sendiri.

Sekali lagi untuk berhubungan atau berkomunikasi atau berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Esa, kita tidak mengenal Modern atau Tradisional. Karena Tuhan Yang Maha Esa - .... ada sebelum kita semua ada, tetap ada setelah kita semua tiada ....

Jadi tidak ada Hubungannya, bahwa Agama yang lebih baru, adalah agama yang lebih baik. Dengan analogi tersebut, sama saja mengatakan Allah mereka mempunyai kemampuan yang sama dengan manusia. Dimana harus mengalami proses penyempurnaan.

Kejawen adalah Agama Lokal tertua di dunia yakhi 4425 tahun sebelum Masehi, sementara Hindu sekitar 3000 tahun sebelum Masehi.

Secara sosiologis, dan sudah dibuktikan, tidak ada satu Agama pun di Dunia yang tidak berawal dari Agama Lokal. Hal ini dikarenakan, tidak ada satu pun Agama yang turun ke Bumi, yang langsung sama persis pelaksanaannya di seluruh Dunia dalam waktu yang bersamaan pula. Singkatnya, semua Agama di dunia membutuhkan waktu sosialisasi untuk pengembangan wilayah cakupan Agama tersebut.

Saya pernah membaca di sebuah Blog, yakni mengenai Sifat Ciptaan Tuhan, dimana disebut bahwa hanya Nyawa dan Nafas yang terbukti Diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa Secara Langsung. Karena Nafas di seluruh dunia seragam, mulai yang dihirup, sampai cara bernafasnya pun sama, juga yang canggih, kita tidak pernah harus belajar Nafas untuk dapat hidup di Bumi ini.

Kalau CiptaanNya Secara Tidak Langsung adalah berbagai hal yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa, melalui perantaraan manusia yang di-pintar-kan, seperti tak ubahnya penemuan; Lampu (Wolfram), dan Mesin, dalam disiplin ilmu tehnik, sementara Kitab Suci, dan Agama dapat disebut sebagai disiplin ilmu sastra.

Kembali lagi pada Kejawen-Modern, jadi sesungguhnya tidak ada Kejawen Modern, yang ada adalah Kejawen yang menyesuaikan dengan prilaku manusia pada zamannya.

Catatan :
Kejawen merupakan sebutan orang yang menganut Agami Jawi, seperti juga Muslim untuk orang yang menganut agama Islam, atau Kristiani bagi penganut agama Kristen.


Ok.. kita lanjut lagi versi saya. Saya setuju dengan pendapat tersebut. Sehingga ini pula yang menginspirasi saya untuk menulis.

Agama. Adalah kata sakral yang selalu menjadi bagian pembahasan yang harus penuh kehati-hatian. Sensitivitas bagi pemeluk agama sangat tinggi. Dan tidak boleh salah, karena akan dianggap menista salah satu agama.

Pada dasarnya saya sepakat dengan pemikiran bahwa; Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik. Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.

Yang perlu disadari disini dan harus diakui, sebagian besar dari setiap pemeluk agama adalah warisan dari keturunan dan lingkungan. Artinya, ia akan secara otomatis memeluk agama sesuai dengan dimana ia dilahirkan dan oleh orang tua dari pemeluk agama apa. Jika islam, ya secara otomatis akan menjadi muslim, jika lingkungan dan atau orang tuanya Kristen maka tentu ia akan menjadi kristiani. Atau agama lainnya.

Soal akan tumbuh menjadi baik atau buruk, itu bagian lain. Karakter dan proses hidup akan mengambil bagian dari pembentukan itu. Demikian juga cara berpikir manusia akan senantiasa terbentuk dari pengaruh lingkungan dan proses hidupnya.

Jika dilahirkan di Amerika maka gaya, cara, dan karakternya akan terbentuk sebagaimana orang Amerika pada umunya. Demikian juga ketika di Arab, Africa, Indonesia, atau lainnya.

Lalu yang menjadi persoalan seringkali perbedaan alami ini yang menjadi pertentangan dan cenderung merasa yang paling benar termasuk soal agama tadi. Makanya, harus hati-hati karena sangat sensitive. Dan sebenarnya tidak perlu diperdebatkan.

Cara berpikir lah yang terkadang cenderung mempangaruhi visi dari sebuah agama itu sendiri.

Ketertarikan dengan kejawen, menurut saya--tanpa label agama—adalah; cara pandang dalam memaknai hidup. Dimana terkandung nilai-nilai luhur manusiawi dalam berperi kehidupan sosial. Nilai-nilai luhur dengan pemahaman hakikat yang menonjol sehingga menjadikannya sebagai tuntunan bagi setiap umat manusia, jika tidak dilabeli agama.

Pengkotak kan agama dan label lah yang terkadang cenderung membuat nilai-nilai luhur yang terkandung dalam setiap ajaran tidak mampu dilihat oleh kelompok lain. Karena telah terjadi penolakan sebalum melihat.

Kejawen adalah adalah warisan masa lalu tentang hakikat yang mengandung tuntunan nilai-nilai luhur yang diakui nurani kebenaranya. Kejawen adalah sebuah kata untuk menyebut ajaran-ajaran tersebut. Dan kebenaran-kebenaran yang diakui oleh nurani akan benar-benar dapat dilihati oleh setiap insan di bebagai belahan dunia ketika kebenaran-kebenaran tersebut sudah tidak mempunyai label lagi. Kebenaran antara sang khalik dan jiwa ciptaannya.

Sebagai insan Nusantara, sebagai insan Atlantis, sebagai insan Lemuria, sebagai insan sang khalik, saya bangga sebagai pewaris nilai-nilai kebenaran. Bukti kejayaan masa lalu, dapat dilihat melalui ajaran-ajaran kebenaran berbudi luhur nya, yang disebut kejawen bagi pemeluk Agami Jawi.

Budi luhur adalah manifestasi dari kerinduang insan. Kebutuhan bagi setiap ciptaan sang khalik. Bagi setiap pemeluk agama maupun bukan pemeluk agama.

Dan masa kejayaan negeri eden nan sentosa itu akan bangkit kembali, ketika setiap insan pewarisnya mampu melihat nilai-nilai kebenaran dalam bentuk hakikat dan makrifat yang dirindukan kan oleh nurani.

Era Atlantis adalah era modern, modern dalam berpikir dan melihat tanpa batas-batas tertentu.

Bersambung gan…. Sudah pagi…
5 Xmagazine: Mei 2012 X magazine --- Aritkel ini saya dapat dari blog KejawenModern. Ini pula yang menjadi judul posti...

5 Nama Digunakan Untuk Menyebut "Indonesia" Sebelum "Indonesia"

5 Nama Digunakan Untuk Menyebut Indonesia Sebelum Indonesia
ilustrasi: http://edukasi.kompasiana.com/
X magazine --- Nama Indonesia berasal dari kata “Indo” dan “Nesie” (bahasa Yunani) yang artinya kepulauan Hindia. Dan orang pertama yang menggunakan nama Indonesia itu adalah James Richardson Logan (1869) dalam kumpulan karangannya yang berjudul The Indian Archipelago and Estern Asia yang terbit dalam Journal of the Asiatic Society of Bengal (1849-1859).

Pada masa jaman kolonial lalu, nama Indonesia begitu tabu untuk diperdengarkan. Makanya tak heran, beberapa sebutan atau nama telah disematkan oleh bangsa asing untuk menamai negeri kepulauan ini. Berikut 5 nama lain Indonesia yang diberikan oleh bangsa asing di masa lalu.

1. Hindia
Nama Hindia ini adalah ciptaan dari Herodotus, seorang ahli ilmu sejarah berkebangsaan Yunani (484-425 Sebelum Masehi) yang dikenal dengan Bapak Ilmu Sejarah. Adapun nama Hindia ini baru dipergunakan untuk kepulauan ini, oleh Ptolomeus (100-178 SM), seorang ahli ilmu bumi yang terkenal.Dan nama Hindia ini menjadi terkenal sesudah bangsa Portugis di bawah pimpinan Vascvo da Gama mendapati kepulauan ini dengan menyusur sungai Indus, dalam tahun 1498 Masehi

2. Nederlandsch Oost-Indie
Cornelis de Houtman (Sumber: bad-bad.de)
Nama ini diberikan oleh orang-orang Belanda sesudah mereka berkuasa disini. Kemudian nama ini ditukar dengan “Nederlandsch Indie”. Seperti diketahui, bangsa Belanda untuk pertama kalinya datang ke Indonesia dalam tahun 1596 di bawah pimpinan Cornelis de Houtman.

3. Insulinde
Nama ini diberikan oleh Eduard Douwes Dekker (multatuli) di dalam bukunya Max Havelaar dalam tahun 1860, kemudian nama ini dipopulerkan oleh Professor P.J. Veth. Multatuli membuat nama baru ini, oleh karena ia jijik mendengar nama Nederlandsch Indie yang diberikan oleh Belanda itu. Adapun asal usul perkataan tersebut ialah berasal dari perkataan “Insulair”, “Insula” dan “Indus”. Insula dalam bahasa latin yang berarti pulau. Indus berarti Hindia, sedangkan Insilinde artinya pulau Hindia.
4. Nusantara
Nama ini ditemui dalam perpustakaan India Kuno, yang menyebut negeri ini Nusantara. Adapun Nusantara atau Dwipantara artinya pulau-pulau yang berada diantara benua-benua. Dalam kitab Negarakertagama disebutkan, bahwa Nusantara ialah pulau-pulau di luar tanah Jawa. Sedangkan dalam sejarah Melayu dipakai nama: Nusa Tamara. Nama inipun sesungguhnya berasal dari perkataan yang diucapkan Nusantara.

5. The Malay Archipelago
Nama ini diciptakan oleh Alfred Russel Wallace dalam tahun 1869, sesudah ia mengadakan perlawatan ke tanah air kita, dari tahun 1854 sampai dengan 1682. Adapun “Malay” artinya Melayu, “Archipel” yang berasal dari bahasa Yunani “Archipelagus” (dari asal Archi=memerintah; plagus= laut). Dengan demikian beraarti menguasai laut, atau berarti kumpulanpulau-pulau Melayu.


sumber : yugo21.blogspot.com
5 Xmagazine: Mei 2012 ilustrasi: http://edukasi.kompasiana.com/ X magazine --- Nama Indonesia berasal dari kata “In...

Sabtu, 12 Mei 2012

Jejak Atlantis, Taprobane, dan Avatar Indonesia

Jejak Atlantis, Taprobane dan Avatar Indonesia
Ilustrasi Atlantis

Xmagazine --- Serba “konon” demikianlah laiknya kita menyebut kota yang hilang penuh misteri itu.

Memang, menyimak tentang “The Atlantis”, seakan  mendengar cerita antah berantah atau layaknya dongeng pengantar tidur. Namun Atlantis, tetap lah Atlantis, negeri sejuta misteri yang selalu menarik untuk dicermati.

Tidak banyak yang tahu bahwa cerita Atlantis itu berasal dari Plato (428 SM – 348 SM) hampir dua ribu lima ratus tahun yang silam dalam bukunya Timaeus and Critias. Ia bercerita dengan penuh keyakinan bahwa negeri eden itu benar-benar ada.

Sejak ratusan tahun yang lalu hingga pertengahan abad 20 M, orang-orang di luar Indonesia yang terobsesi dengan kisah Plato itu hidup dalam “dunia konon”, berteori tentang benua yang hilang; mulai dari Bacon di pertengahan abad 17 M hingga Himmler, Ilmuwan Nazi, pada tahun 1939.

Francis Bacon tahun 1627 dalam novelnya, The New Atlantis (Atlantis Baru), mendeskripsikan komunitas utopia yang disebut Bensalem, terdapat di pantai barat Amerika. Karakter tempat dalam novel ini memberikan lukisan tentang Atlantis yang mirip dengan catatan Plato, namun tidak dijelaskan Bacon apakah pantai barat Amerika itu berada di Amerika Utara atau di Amerika Selatan.

Novel Isaac Newton tahun 1728, The Chronology of the Ancient Kingdoms Amended (Kronologi Kerajaan Kuno yang Berkembang), mempelajari berbagai hubungan mitologi dengan Atlantis.

Pada pertengahan dan akhir abad ke-19, beberapa sarjana Mesoamerika, dimulai dari Charles Etienne Brasseur de Bourbourg, dan termasuk Edward Herbert Thompson dan Augustus Le Plongeon, menyatakan bahwa Atlantis berhubungan dengan peradaban Maya dan Aztek.

Alexander Braghine tahun 1940 yang terpesona dengan cerita Atlantis dan menelusurinya melalui budaya Amerika Selatan, Eropa, Asia dan Afrika. Francesco Lopez de Gomara berani menyatakan Atlantis terletak di Amerika. Konsep Atlantis juga menarik perhatian ilmuwan Nazi untuk mengembangkan ide nasionalis.

Pada tahun 1938, Heinrich Himmler mengorganisir sebuah pencarian di Tibet untuk menemukan sisa bangsa Atlantis putih. Menurut Julius Evola (Revolt Against the Modern World, 1934), bangsa Atlantis adalah manusia super atau Übermensch Hyperborea—Nordik yang berasal dari Kutub Utara. Dalam kaitan ini disebut-sebut pula Alfred Rosenberg (The Myth of the Twentieth Century, 1930) yang berbicara juga mengenai kepala ras “Nordik-Atlantis” atau “Arya-Nordik”.

Sejak Donnelly (1882) mempublikasikan Atlantis: the Antediluvian World, terdapat lusinan – bahkan ratusan – usulan lokasi Atlantis yang katanya berdasarkan hasil penelitian arkeologi, fisika, geologi, bahasa, dan keilmuan lainnya. Dari sekian banyak usulan beberapa yang terkenal berada di wilayah Eropa, Selat Gibraltar, dan sekitar Laut Hitam.

Di wilayah Eropa kebanyakan lokasi yang diusulkan sebagai Atlantis itu berada pulau-pulau di Laut Tengah, yaitu: Sardinia, Kreta dan Santorini, Sisilia, Siprus, Malta, dan Kepulauan Canary di sekitar selat Gibraltar. Ada juga usualan yang berupa kota seperti: Troya, Tartessos, dan Tantalus (di provinsi Manisa), Turki; dan wilayah antara Israel-Sinai atau Kanaan.

Di wilayah Eropa Utara, yaitu pulau pulau yang tenggelam di sekitar Swedia dan Irlandia juga dinyatakan sebagai Benua Atlantis yang hilang. Di selat Gibraltar-Samudera Atlantik usulan lokasi Atlantis itu adalah wilayah sekitar Kepulauan Azores dan Pulau Spartel yang telah tenggelam itu. Adapun di sekitar Laut Hitam, daerah yang diduga sebagai Atlantis adalah Bosporus, Ancomah, dan sekitar Laut Azov.

Argumentasi pengusulan lokasi-lokasi tadi sebagai Atlantis pada umumnya didasarkan pada Sejarah Yunani Kuno, Kemajuan Bangsa Eropa masa kini, dan secara fisik pada Letusan besar Gunung Thera abad ke-17 atau ke-16 SM yang menyebabkan tsunami besar yang diduga menghancurkan peradaban Minoa di sekitar pulau Kreta.

Para ahli Eropa beranggapan bencana seperti itu mungkin juga terjadi pada masa lalu yang menghancurkan Benua Atlantis. Argumen lain adalah kemampuan migrasi suatu bangsa ke berbagai belahan dunia terutama ke Benua Amerika, sebagaimana bangsa Viking untuk argumen pengusulan Eropa Utara sebagai Atlantis.

Atlantis, Trapobane, dan Sundaland: Eksplorasi temuan Santos


Dari sejumlah usulan yang ada tentang lokasi Atlantis nyatanya sampai kini belum ada yang berhasil dibuktikan sebagai bekas benua Atlantis yang sesungguh-nya, walaupun lokasi-lokasi usulan tersebut memiliki kemiripan karakteristik dengan kisah Atlantis, misal: adanya bencana besar, pulau-pulau yang hilang, dan periode waktu yang relevan. Namun, tiba-tiba pada tahun 2005 muncul seorang saintis Brazil bernama Arysio Santos yang – setelah melakukan penelitian mendalam tentang benua-benua yang hilang – menyatakan bahwa “Atlantis: Benua yang hilang itu sudah ditemukan” (Atlantis: the Lost Continent Finally is Found). Sebab kitapun mungkin akan tersentak, penelitian selama 30 tahun itu bermuara pada kesimpulan bahwa benua Atlantis yang hilang itu tenggelam di wilayah Indonesia, yaitu di Sundaland, hingga hanya menyisakan puncak-puncak yang membentuk pulau-pulau dalam sabuk gunung api.

Kesimpulan tersebut berawal dari keyakinan Prof. Santos-saintis Brazil itu – bahwa “Pilar-pilar Herkules” sebagai Selat Sunda; dan Taprobane sebagai “Benua Atlantis” pada zaman es (Pleistosen) atau sebagai “Pulau Sumatera” pada akhir zaman es (Holosen). “Pilar-pilar Herkules” dan ”Taprobane” adalah dua diantara ciri-ciri Atlantis yang hilang yang diceritakan oleh Plato. Menurut Santos, Taprobane adalah Sundaland yang dikisahkan kaya dengan emas, batuan mulia, dan beragam binatang termasuk gajah. Kita tahu, Sundaland adalah wilayah yang meliputi Indonesia bagian Barat sekarang, yaitu Sumatera, Jawa, Kalimantan dan pulau-pulau kecil lain di sekitarnya, termasuk laut-laut di antaranya; atau sebagian besar wilayah Asia Tenggara saat ini.

Di Taprobane inilah, kata Santos, terdapat Kota Langka, ibukota kerajaan Atlantis. Langka dianggap sebagai lokasi awal Meridian 00 yang tepat berada di atas pusat Sumatera sekarang. Tradisi Yunani tentang pulau Taprobane sebenarnya merujuk kepada tradisi Hindu. Taprobane dalam tradisi Hindu adalah benua yang tenggelam yang merupakan tempat dari mana bangsa Dravida berasal dan berada di khatulistiwa. Nama “Taprobana Insula” dipopulerkan oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad 2 M. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobane terdapat negeri Barousai yang – menurut Santos – kini dikenal sebagai kota Barus di pantai barat Sumatera. Kota Barus terkenal sejak zaman purba (Fir'aun) sebagai penghasil kapur barus. Namun demikian, serta merta banyak penolakan terhadap pendapat Santos tersebut.

Penolakan terhadap argumentasi Santos pada mulanya adalah suatu keniscayaan karena sangat berjarak dengan alam pikiran umumnya manusia Indonesia. Hal ini didukung pula oleh fakta bahwa hampir semua tulisan tentang sejarah peradaban menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan 'pinggiran'.

Artinya kebudayaan Indonesia tumbuh subur berkembang hanya karena imbas migrasi manusia atau riak-riak difusi budaya dari pusat-pusat peradaban lain. Karena itu pula wajar jika banyak geolog Indonesia dengan serta merta menolak pendapat Santos, selain ada pula yang menerimanya.

Sayangnya penolakan dan penerimaan hipotesis Santos tersebut dilakukan tanpa argumentasi sesuai proses ilmiah yang benar yang dipublikasikan melalui majalah atau jurnal ilmiah terakreditasi di masing-masing lingkungan keilmuaannya. Lain halnya para peneliti Eropa dan Amerika yang selalu memberikan respon melalui jurnal ilmiah, konfrensi, atau simposium internasional sehingga data dan argumentasi yang diajukannya dapat teruji secara ilmiah.

Penelitian DNA Oppenheimer mendukung Santos


Argumentasi Santos masih memerlukan verifikasi dan validasi, baik keseluruhannya maupun masing-masing indikatornya. Salah satu validasi data yang dapat digunakan untuk membuktikan hipotesis Santos datang dari Stephen Oppenheimer, seorang dokter ahli genetik yang belajar banyak tentang sejarah peradaban.

Oppenheimer sependapat dengan Santos bahwa kawasan Asia Tenggara adalah tempat cikal bakal peradaban kuno dan bahwa Atlantis yang hilang itu itu berada di Sundaland. Menurutnya, kemunculan peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran dari Asia Tenggara akibat berakhirnya Zaman Es.

Bagi peneliti lain pendapat Oppenheimer sepertinya kontroversial, padahal, tesisnya sarat didukung oleh data yang diramu dari hasil kajian arkeologi, etnografi, linguistik, geologi, maupun genetika. Oppenheimer membutuhkan waktu 10 tahun untuk menghasilkan sebuah buku berjudul “Eden in the East, the Drowned Continent of Southeast Asia” yang memuat argumentasi bahwa Atlantis yang hilang itu adalah Sundaland. Kekuatan argumen Oppenheimer terletak pada hasil penelitian DNA yang menentang teori konvensional saat ini bahwa penduduk Asia Tenggara sekarang (Filipina, Indonesia, dan Malaysia) datang dari Taiwan 4000 tahun yang lalu (zaman Neolithikum).

Salah satu sanggahan terhadap Oppenheimer datang dari para ahli bidang mitologi (Association for Comparative Mythology) dalam sebuah konferensi internasional yang berlangsung di Edinburgh 28-30 Agustus 2007. Tema konferensi internasional tersebut adalah ”A new Paradise myth? An Assessment of Stephen Oppenheimer's Thesis of the South East Asian Origin of West Asian Core Myths, Including Most of the Mythological Contents of Genesis 1-11”. Binsbergen salah seorang pemakalah dalam konferensi itu menyanggah Oppenheimer dengan argumentasi yang juga berdasarkan complementary archaeological, linguistic, genetic, ethnographic, dan comparative mythological perspectives.

Menurut Binsbergen, Oppenheimer hanya mendasarkan Sundaland yang ia hipotesiskan sebagai prototip mitologi Asia Tenggara atau Oseania hanya berdasarkan mitologi Asia Barat (Taman Firdaus, Adam dan Hawa, kejatuhan manusia dalam dosa, Kail dan Habil, Banjir Besar, Menara Babel).

Namun bantahan Binsbergen ini dipatahkan kembali oleh Richards et al., (2008) yang menulis makalah pada sebuah jurnal berjudul “New DNA Evidence Overturns Population Migration Theory in Island Southeast Asia”.

Richards menunjukkan bahwa penduduk Taiwan justru berasal dari Sundaland yang bermigrasi akibat Banjir Besar di Sundaland. Demikian pula ciri garis-garis DNA menunjukkan migrasi ke Taiwan pada arah utara, ke New Guinea dan Pasifik pada arah timur, dan ke daratan utama Asia yang di mulai pada 10.000 SM. Menunjukkan penyebaran populasi yang bersamaan dengan naiknya muka laut di wilayah Sundaland.

Dukungan lainnya terhadap Oppenheimer muncul berdasarkan hasil penelitiannya Soares et al., (2008) pada jurnal “Molecular Biology and Evolution” edisi Maret dan Mei 2008 dalam makalah berjudul: “Climate Change and Postglacial Human Dispersals in Southeast Asia”. Soares et al.menunjukkan bahwa haplogroup E, suatu komponen penting dalam salah satu bagian dari DNA, yaitu mitokondria, berevolusi selama 35.000 tahun terakhir dan secara dramatik tiba-tiba pada awal Holosen menyebar ke seluruh pulau-pulau Asia Tenggara, bersamaan dengan tenggelamnya Sundaland menjadi lautan. Komponen tersebut mencapai Taiwan dan Oseania lebih baru lagi, yaitu sekitar 8.000 tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa global warning dan sea-level rises pada ujung Zaman Es 15.000–7.000 tahun yang lalu merupakan penggerak utama human diversity di wilayah ini.

Pendapat Oppenheimer dan ahli-ahli yang dapat dianggap mendukungnya, telah memperkuat argumentasi Santos dan memperjelas penemuan berbagai artefak yang penuh misteri seperti penemuan keris di sebuah kuil purba di Okinawa Jepang, penemuan keris purba di Rusia, kendi purba di Vietnam, Kemboja, dan Pahang; gendang Dong Son dan Kapak Tua Asia Tengah, dan penemuan kota purba yang dinamakan Jawi atau  Jawa di Jordania.

Selain itu, berdasarkan hasil test DNA dapat terjawab pula misteri asal usul bahasa Austronesia. Semula, bahasa Austronesia diduga berasal dari Taiwan, namun dengan bukti-bukti dari hasil riset DNA itu justru sebaliknya bahwa bahasa Austronesia pun berasal dari Sundaland dan dapat diduga pula sebagai bahasa dari bangsa Atlantis atau Taprobane. Kita ketahui bahwa sebelum 1500 SM bahasa Austronesia termasuk salah satu keluarga bahasa yang paling banyak tersebar di dunia dengan tingkat penyebaran lebih dari setengah jarak keliling dunia, yaitu dari Madagaskar ke Kepulauan Easter. Sekarang, kelompok penutur bahasa Austronesia adalah hampir atau semua populasi asli Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Madagaskar juga dapat ditemukan di Taiwan, di bagian selatan Vietnam dan Kamboja, Kepulauan Mergui, Kepulauan Hainan di selatan Cina.

Lebih jauh ke arah timur, bahasa Austrronesia pun dituturkan di beberapa wilayah pantai di Papua Nugini, New Britain, New Ireland, dan di bagian rantai Kepulauan Melanesian yang melewati Kepulauan Solomon dan Vanuatu; juga New Caledonia dan Fiji serta mencakup semua bahasa Polinesia. Penyebaran bahasa Austronesia kearah utara mencakup semua bahasa Mikronesia. Sekitar dua juta penutur bahasa Austronesia hidup di daerah garis barat yang ditarik dari utara ke selatan sekitar 130º garis bujur timur, memanjang dari arah barat Kepulauan Caroline ke arah timur Bird's Head di Pulau New Guinea dan berhubungan erat dengan lebih dari 500 bahasa pada sisi garis pembagi 130º garis bujur timur.

Diperkirakan terdapat antara 1.000 sampai 1.200 varian bahasa Austronesia, berdasarkan kriteria bahasa yang membedakannya lebih jauh dan dialek. Bahasa-bahasa ini dituturkan oleh sekitar 270 juta orang dengan persebaran yang benar-benar tidak merata. Anthony Reid (Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, 2004) menyebut kelompok masyarakat berbahasa Austronesia ini sebagai perintis yang merajut kepulauan di Asia Tenggara ke dalam sistem perdagangan global. Dengan kemampuannya tersebut, sangat beralasan jika para ahli bahasa beranggapan bahwa Bangsa Austronesia diyakini memiliki tingkat kebudayaan tinggi, seperti bayangan tentang bangsa Atlantis yang disebut dalam “mitos” Plato. Lebih jauh lagi, berbagai penelusuran di atas ternyata segala mitos dan tradisi-tradisi suci pada semua bangsa di seluruh dunia, semuanya menuju ke suatu daerah, yaitu kawasan tempat asal mula Bangsa Austronesia sebagai dataran-dataran rendah Atlantis Eden yang sekarang tenggelam berada di bawah permukaan laut.

Kalau memang Atlantis (Taprobane) benar berada di Sundaland, maka bangsa Austronesia itu tidak lain adalah Bangsa Atlantis dan diduga memiliki kekuasaan tidak hanya di Sundaland, tetapi meliputi pula wilayah luas sesuai dengan pola penyebaran bahasa Austronesia. Pengaruh lebih luas terjadi ketika zaman es berakhir yang ditandai dengan tenggelamnya 'benua Atlantis', ketika bangsa Austronesia menyebar ke berbagai penjuru dunia. Mereka lalu menciptakan keragaman budaya dan bahasa pada masyarakat lokal yang disinggahinya dalam tempo cepat yakni pada 3.500 sampai 5.000 tahun lampau.

Salah satu contoh penyebaran bangsa Austronesia ke seluruh dunia yang dibuktikan secara genetik adalah keberadaan suku Zanj – termasuk orang-orang Malagasi – yang merupakan ras Afro-Indonesia yang menetap di Afrika Timur sebelum kedatangan pengaruh Arab atas Swahili.

Hal tersebut dibuktikan berdasarkan hasil test kromosom cDe orang Malagasi yang menunjukkan 62% gen Afrika dan 38% gen Indonesia, sementara kromosom cDe pada umumnya disana menunjukkan 67% gen Afrika dan 33% gen Indonesia. Suku Zanj umumnya mendominasi pantai timur Afrika hampir sepanjang millennium pertama masehi. Kata Zanj merupakan asal dari nama bangsa Azania, Zanzibar dan Tanzania. Ada dugaan yang mengarahkan kesamaan Zanj Afrika dengan Zanaj atau Zabag di Sumatera. Kini rumpun Austronesia menempati separuh muka bumi.

Atlantis Sundaland dan Budaya Maritim


Sejak 5000 tahun sebelum Masehi hingga awal Masehi, bangsa Atlantis yang tersisa mengalami perubahan orientasi budaya dari budaya kontinental menjadi budaya maritim, yaitu budaya yang lebih terbuka dan toleran sehingga mudah menyesuaikan diri dengan wilayah samudera lainnya. Budaya maritin pada saat itu dikenal sebagai pelaut Nusantara. Hipotesis di atas juga diperkuat oleh Dick-Read (2008) dalam bukunya yang berjudul “Penjelajah Bahari”. Hasil penelusurannya menemukan bukti-bukti mutakhir bahwa pelaut Nusantara pada awal tahun Masehi telah menaklukkan samudra Hindia dan berlayar sampai Afrika jauh sebelum bangsa Eropa, Arab, dan Cina memulai penjelajahan bahari mereka. Antara abad ke-5 dan ke-7 M, kapal-kapal Nusantara banyak mendominasi pelayaran dagang di Asia. Pada waktu itu perdagangan bangsa Cina banyak bergantung pada jasa para pelaut Nusantara. Adalah fakta bahwa perkapalan Cina ternyata banyak mengadopsi teknologi dari Indonesia, sebagai contoh: kapal Jung. Demikian pula nelayan Madagaskar dan pesisir Afrika Timur banyak menggunakan Kano, sejenis perahu yang mempunyai penyeimbang di kanan-kiri, yang mirip perahu khas Asia timur.

Hasil penelitian Dick-Read kian memperkaya khazanah literatur tentang peran pelaut Indonesia pada masa pasca zaman Es atau masa akhir keberadaan Atlantis. Bukti-bukti mutakhir tentang penjelajahan pelaut Indonesia di abad ke-5 M dari Dick-Read makin mempertegas pandangan selama ini bahwa sejak lebih dari 1.500 tahun yang lalu nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut sejati. Tesis Dick-Read bahkan lebih jauh lagi, bahwa pada awal milenium pertama kapal-kapal Kun Lun (baca: Indonesia) sudah ikut terlibat dalam perdagangan di Mediterania.

Banyaknya jejak kebudayaan di seluruh Afrika seperti adanya keterkaitan antara kebudayaan suku Bajo dan Mandar di Sulawesi dengan Suku Bajun dan Manda di pesisir Afrika Timur. Bukti lain pengaruh Indonesia terhadap perkembangan Afrika adalah banyaknya kesamaan alat-alat musik dengan yang ada di Nusantara. Di sana, ditemukan sebuah alat musik sejenis Xilophon atau yang kita kenal sebagai Gambang dan beberapa jenis alat musik dari bambu yang merupakan alat musik khas Nusantara. Malahan gambang ditemukan di Sierra Lions letak sebuah negara di wilayah pesisir Afrika Barat. Selain itu juga adanya kesamaan pada seni pahat patung milik suku Ife di Nigeria dengan patung dan relief perahu yang ada di Borobudur.

Ikonik Atlantis di bumi Indonesia

Penelusuran jejak Atlantis di Indonesia saya kira cukup memberikan gambaran atau alasan untuk melakukan pembenaran bahwa Atlantis yang hilang itu terletak di kawasan Indonesia, walaupun masih banyak jejak-jejak yang perlu ditelusuri dan diungkap sebagai bukti atau fakta-fakta yang menguatkan. Fenomena Atlantis di Indonesia nyatanya telah mempengaruhi pola fikir arkelog kita dalam melakukan penilaian dan pengungkapan berbagai artefak baru, seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Agus Aris Munandar Dosen Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Ia menduga bahwa di lereng Gunung Dempo Sumatera Selatan – yang dikemukakan Santos sebagai salah satu puncak gunung Atlantis – terdapat situs prasejarah yang kronologinya dapat lebih tua dari kebudayaan perunggu Dong-son yang berumur 300 SM. Situs itu adalah Pasemah yang berumur 3.000 SM.

Disebut “Pasemah Warrior” karena berada di wilayah Pasemah, Gunung Dempo, yang menunjukkan pria dengan busana warrior (pahlawan). Sebuah ikon yang tidak dikenal dalam kebudayaan prasejarah manapun, baik di Asia Tenggara, Cina, ataupun India. Sementara itu sejumlah topeng perunggu dari Goa Made Jombang Jawa Timur memperlihatkan topi perang yang tidak pernah dikenali dalam kebudayaan prasejarah di Asia atau pun dunia. Agaknya topeng itu merupakan topi logam pelindung kepala dengan dilengkapi bagian yang mencuat di puncak kepalanya. Kronologi akurat menyimpulkan bahwa benda-benda perunggu itu ada yang berasal dari tahun 3000 SM. Demikian pula arca-arca pilar di Lembah Bada Sulawesi Tengah sebenarnya juga menggambarkan topeng yang wajahnya mirip dengan topeng-topeng perunggu di Goa Made, wajah asing yang bukan Malayan-Mongoloid.

Ketiga lokasi artefak tersebut (Pasemah-Gunung Dempo, Goa Made-Jombang, dan Lembah Bada – Sulawesi Tengah) terletak di pedalaman, di dataran yang relatif tinggi dari daerah sekitarnya, seakan-akan sengaja dibuat di suatu ketinggian. Menurut Agus Aris Munadar kemungkinan hal itu untuk menghindari terjadinya kembali gelombang besar dari lautan yang menerjang daerah-daerah rendah.

Selanjutnya Agus pun menyatakan apabila ketiga situs di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi itu dihubungkan dengan garis maya, maka terdapat bentuk segi tiga. Dalam peta wilayah yang menjadi bagian dalam segitiga itu terdapat Laut Jawa yang diduga oleh Santos sebagai bekas dataran agung Atlantis yang menjadi laut pada sekitar 11.600 tahun yang lalu. Perkembangan sejarah Indonesia saat ini menunjukkan arus balik pola pikir yang dapat mengarah pada paradigma baru sehingga diperlukan penelusuran dan rekontruksi sejarah yang sesungguhnya. Sebab, kisah pengembaraan bangsa Indonesia berpotensi untuk menjadi sebuah epik yang teramat panjang, lebih panjang dari epik Homer, The Iliad and the Odyssey sehingga disana banyak ruang yang belum terisi atau missing link.

Memanfaakan Isu Atlantis untuk Pariwisata


Hasil penelitian Santos dan Oppenheimer adalah pintu masuk untuk menyusun kembali tulang belulang yang berserakan dengan metode keilmuan yang benar, walaupun membutuhkan waktu yang panjang dan berliku. Sementara itu popularitas Indonesia yang sudah dibangun oleh Santos dan Oppenheimer secara gratis dapat dimanfaatkan untuk pengembangan kepariwisataan Indonesia tidak harus menunggu pembuktian karena tidak ada yang salah dengan mitologi, apalagi argumen Santos dan Oppenheimer sudah lebih maju. Tugas Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata lah yang harus mengelola dan memanfaatkan situasi ini dengan baik.

Sudah banyak negara lain seperti Spanyol, Cyprus, Uni Emirat Arab, dan lainnya menghadapi situasi dan kondisi seperti yang dihadapi Indonesia saat ini. Namun, mereka memanfaatkan situasi dan kondisi itu untuk berbagai kepentingan bangsanya. Cyprus sukses mendatangkan wisatawan pencari Atlantis setelah seorang Arkelog Cyprus, Flurentzos, membuat artikel berjudul: ”Statement on the alleged discovery of atlantis off Cyprus”. Walaupun mendapat penolakan dari Santos, sampai saat ini Cyprus mampu mendatangkan wisatawan Atlantis karena tulisan tersebut menggambarkan Cyprus sebagai lokasi Atlantis yang hilang itu. Hal yang sama dilakukan Spanyol. Setelah banyak hasil penelitian yang menghipotesiskan Selat Gilbaltar sebagai selat sempit yang dianggap sebagai ”pilar-pilar Hercules”, serta merta pemerintahnya menyambut dan membuat berbagai objek wisata yang dikaitkan dengan ikon-ikon Atlantis yang hilang itu, seperti pilar-pilar Herkules pada obyek Wisata The Pillars Of Hercules. Fungsi sebenarnya dari perwujudan ikon-ikon Atlantis itu tiada lain untuk menarik wisatawan.

Penelitian Atlantis terkini di Indonesia, di antaranya dilakukan NASA, NOAA, dan sejumlah penelitian oseanografis yang dilakukan dengan kapal selam, telah menemukan jejak-jejak di dasar laut. Jejak-jejak tersebut berhasil memverifikasi bahwa pada Zaman Es, Laut Jawa, dan Selat Sunda merupakan dataran yang luas. Paparan laut Jawa – dataran yang luas itu – berbentuk persegi empat berukuran sekitar 600 x 400 km2, persis sama dengan gambaran Plato tentang “Dataran Agung Atlantis”. Dataran seluas itu memang sangat langka di dunia. Pulau-pulau Indonesia yang ada sekarang, pada Zaman Purba, yaitu di akhir Zaman Es, merupakan dataran tinggi dan puncak-puncak gunung yang tersisa ketika permukaan laut di seluruh dunia naik antara 130 m hingga 150 m dan menenggelamkan dataran-dataran rendahnya. Dataran Atlantis diduga berada di kedalaman sekitar 60 m di bawah permukaan laut kini.

Bagi Pemerintah Indonesia hipotesis Atlantis di Sundaland dari Santos, Oppenheimer, dan para pendukungnya itu adalah sebuah promosi gratis tentang wisata ilmiah. Apabila dikelola dengan baik, terutama oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dan Kementerian Pendidikan, maka hal itu dapat memperkaya dunia wisata dan jumlah kunjungan wisatawan, khususnya wisata ilmiah (scientist tourism) yang di negara kita belum begitu berkembang dan terkelola dengan baik. Untuk itu, serangkaian kegiatan wisata atau pun ilmiah dapat dilakukan di lokasi-lokasi yang diduga kuat sebagai peninggalan-peninggalan Atlantis di Sundaland dapat dilaksanakan.

Salah satu objek wisata Atlantis yang memiliki prospek cukup baik adalah Selat Sunda karena diduga adanya keterkaitan lokasi tersebut dengan ”pilar-pilar Herkules” sebagaimana dikatakan Plato. Santos pun dalam bukunya sering mengatakan bahwa Selat Sunda sebagai selat sempit yang diduga sebagai salah satu penyebab terpisahnya Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, serta pemungkas Zaman Es. Di kedua belah sisi selat Sunda terdapat banyak Gunung Api yang dikiaskan Plato sebagai ”pilar-pilar Herkules”. Seiring dengan rencana pembangunan jembatan Sumatera-Jawa, diharapkan penamaan jembatan tersebut dapat dikaitkan dengan fenomena Atlantis agar dapat menambah daya tarik wisatawan mancanegara. Penamaan jembatan Sumatera-Jawa dengan menggunakan ikon Atlantis juga sebagai simbol kembalinya kejayaan Atlantis dalam bentuk kesatuan Republik Indonesia. Sebagai contoh nama jembatan tersebut dapat saja menggunakan nama: ”Taprobane bridge” atau ”Hercules bridge” atau nama lain yang memuat ikon-ikon Atlantis.

Isu Atlantis di Sundaland dan Avatar Indonesia


Pada akhirnya, upaya kita melakukan promosi bahwa Atlantis yang hilang itu adalah Sundaland bukan untuk membangkitkan kebanggaan sempit yang didorong oleh emosi, melainkan sebagai pembelajaran sejarah sambil mengembangkan nalar sehingga kita mampu memecahkan persoalan yang kita hadapi sekarang dan menyongsong masa depan yang lebih baik. Inilah pandangan avatar atau representasi Atlantis yang hilang itu didalam Indonesia kini, yakni inkarnasi Indonesia yang sebenarnya, yang sepantasnya, mengingat kejayaan masa lalunya di zaman Atlantis itu; dan segenap potensinya dalam menghadapi masa kini dan masa depan.

Sebagaimana avatar yang dimengerti oleh James Cameron, avatar Indonesia semestinya secara fisik, emosional-spritual dan intelektual adalah sosok baru dengan sebuah sinergi atau larutan atau hibrida baru yang dapat menghadapi perkembangan dunia yang dinamis; dan mampu merebut ruang dan waktu barunya sendiri ke depan karena tersambung dengan masa lalunya yang gemilang. Semua itu dimulai dengan perhatian terhadap sejarahnya, yakni ruang dan waktu lebih dari 10.000 tahun yang lalu ketika masyarakat yang menempatinya menjadi sumber dari seluruh ras dan peradaban dunia. Atlantis dan Trapobane yang menjadi Avatar Indonesia kini semestinya menguak kembali potensi sejarah Indonesia yang benar

Sejarah yang selama ini memutus hubungan Indonesia terhadap Atlantis itu mungkin memang sengaja dibuat oleh kolonialis. Namun, kita tidak menyalahkan siapa-siapa karena memang watak kolonialisme itu diantaranya adalah penghancuran identitas suatu bangsa. Kalaupun ada yang beranggapan bahwa kualitas bangsa Indonesia sekarang sama sekali “tidak meyakinkan” untuk dapat dikatakan sebagai pewaris bangsa Atlantis, maka hal itu wajar saja sebagai suatu proses maju atau mundurnya peradaban dalam ruang dan waktu lebih dari 10.000 tahun. Apa yang diperlukan kini adalah bangkit dalam kemerdekaan kedua berkaitan dengan sejarahnya dan mengisinya dengan suatu keyakinan dan pandangan baru. Sebagaimana Avatar-nya Cameron yang menggambarkan perkembangan kehidupan dan peradaban yang seharusnya, maka Avatar Indonesia yang tersambung ke Atlantis itu seharusnyalah mewujudkan kembali kejayaan lamanya.
(Oki Oktariadi/Oman Abdurahman)
5 Xmagazine: Mei 2012 Ilustrasi Atlantis X magazine --- Serba “konon” demikianlah laiknya kita menyebut kota yang hil...

Konteks Indonesia secara Filosofis dan Spiritual

Kesenian Tradisional Sumatera Barat atau Minangkabau
Tari Piring Photo: http://nationalgeographic.co.id/
Tari Piring atau dalam bahasa Minangkabau disebut dengan Tari Piriang adalah salah satu seni tari tradisonal di Minangkabau - Sumatera Barat. 

Tarian ini dimainkan dengan menggunakan piring sebagai media utama. Piring-piring tersebut kemudian diayun dengan gerakan-gerakan cepat yang teratur, tanpa terlepas dari genggaman tangan. Salah satu mahakarya Nusantara diantara berbagai adat, budaya, seni yang lainnya.

X magazine --- Secara filosofis dan historis, apa yang telah dirumuskan oleh para Founding Fathers Republik Indonesia menjadi Panca Sila, apakah secara langsung atau tidak, mungkin terinspirasi atau ada kemiripan (paralelisme) dengan konsep Plato tentang “Negara Ideal” yang tertulis dalam karyanya “Republic”.

Konsep Plato tentang sistem kepemimpinan masyarakat dan siapa yang berhak memimpin bangsa, bukanlah berdasarkan sistem demokrasi formal-prosedural yang liberal ala demokrasi Barat (Amerika) saat ini. Secara sederhana konsep kepemimpinan Platonis adalah “King Philosopher” atau “Philospher King”. Konsep ini Plato dapatkan dari kisah tentang sistem pemerintahan dan negara Atlantis.

Menurut Plato suatu bangsa hanyalah akan selamat hanya bila dipimpin oleh orang yang dipimpin oleh “kepala”-nya (oleh akal sehat, ilmu pengetahuan dan hati nuraninya), dan bukan oleh orang yang dipimpin oleh “otot dan dada” (arogansi), bukan pula oleh “perut” (keserakahan), atau oleh “apa yang ada di bawah perut” (hawa nafsu). Hanya para filosof, yang dipimpin oleh kepalanya, yaitu para pecinta kebenaran dan kebijaksanaan-lah yang dapat memimpin dengan selamat, dan bukan pula para sophis (para intelektual pelacur, demagog) seperti orang kaya yang serakah (tipe Qarun, “manusia perut” zaman Nabi Musa), atau tipe Bal’am (ulama-intelektual-penyihir yang melacurkan ilmunya kepada tiran Fir’aun).

Plato membagi jenis karakter manusia menjadi 3: “manusia kepala” (para filosofof-cendikiawan-arif bijaksana), “manusia otot dan dada” (militer), dan “manusia perut” (para pedagang, bisnisman-konglomerat). Negara akan hancur dan kacau bila diserahkan kepemimpinannya kepada “manusia otot-dada” atau “manusia perut”, menurut Plato.

Dr. Jalaluddin Rakhmat menjelaskan dalam konteks terminologi agama mutakhir: Islam, istilah Philosophia atau Sapientia, era Yunani itu identik dengan terminologi Hikmah dalam al-Qur’an. Istilah Hikmah terkait dengan Hukum (hukum-hukum Tuhan Allah SWT yang tertuang dalam Kitab-Kitab Suci para Nabi dan para Rasul Allah, utamanya Al-Qur’an al-Karim, dan Sunnah Rasulullah terakhir Muhammad SAW, yang telah merangkum dan melengkapi serta menyempurnakan ajaran dan hukum rangkaian para nabi dan rasul Allah sebelumnya.

Hukum yang berdasarkan dan bergandengan dengan Hikmah, bila ditegakkan oleh para Hakim dalam sebuah sistem Hukumah (pemerintahan) inilah yang akan benar-benar dapat merealisasikan prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmah-kebijaksanaan dalam permusyawaratan-perwakilan, serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Maka semakin jelaslah mengapa konsep kepemimpinan berdasarkan Panca Sila itu terkait erat dengan konsep kepemimpinan negara versi Plato, karena ia mengambilnya dari peradaban tertua yang luhur dari peradaban umat manusia pertama (Adam As dan keturunannya) yang mendapat hidayah dan ilmu langsung dari Tuhan YME: Allah SWT. Dan entah benar atau tidak, lokasinya adalah di Nusantara (Asia Tenggara).

Surga Atlantis, Yunani dan Indonesia

Plato mendapatkan ilham filsafat politiknya serta informasi tentang peradaban dan perikehidupan bangsa antik yang luhur Atlantis, dari Socrates gurunya, juga dari jalur kakeknya yang bernama Critias. Di mana Critias mendapatkan berita tentang Atlantis dari Solon yang mendapatkannya dari para pendeta (ruhaniawan) di Mesir kuno.

Menurut penelitian Aryso Santos, para pendeta (rohaniwan) Mesir kuno ini, mewarisi informasi tentang Atlantis ini dari para leluhurnya yang berasal dari Hindustan (India yang merupakan peradaban Atlantis ke-2) dari peradaban bangsa Atlantis pertama di Sunda Land (Lemuria) atau Nusantara. Aryso Santos juga menemukan banyak informasi-informasi yang mengarahkan kesimpulannya dari artefak-artefak dan situs bersejarah di Mesir.
Aryso Santos juga menemukan bahwa cerita tentang Atlantis terkait dengan kisah para “dewa’ dalam mitologi Yunani dan perikehidupan manusia pertama, keluarganya dan masyarakat keturunannya,. Cerita ini ada kemiripan dengan kisah Zeus dalam mitology dan legenda Yunani, juga dengan kisah dalam kitab suci Hindu Rig Veda, Puranas, dll.

“All nations, of all times, believed in the existence of a Primordial Paradise where Man originated and developed the fist civilization ever. This story, real and true, is told in the Bible and in Hindu Holy Books such a the Rig Veda, the Puranas and many others. That this Paradise lay “towards the Orient” no one doubts, excepting some die-hard scientists who stolidly hold that the different civilizations developed independently from each other even in such unlikely, late places such as Europe, the Americas or the middle of the Atlantic Ocean. This, despite the very considerable contrary evidence that has developed from essentially all fields of the human sciences, particularly the anthropological ones. It is mainly on those that we base our arguments in favor of the reality of a pristine source of human civilization traditionally called Atlantis or Eden, etc.” tulis Aryso Santos.

Yang cukup mengejutkan adalah bahwa Peradaban kuno Atlantis, yang kemungkinan adalah peradaban pertama umat manusia, justru sudah beradab (civilized) dan punya kemampuan sains dan teknologi, dan sistem kemasyarakatan dan ketatanegaraan ideal yang cukup maju yang tak terbayangkan oleh kita sekarang itu dapat terjadi 11.600 tahun yang lalu. Dari sudut pandang umat Islam, hal ini tidaklah mengherankan, karena Nabi Adam, sebagai manusia (kalifatullah) pertama telah diajari Allah semua ilmu pengetahuan tentang nama-nama (QS 2 : 30)

Sebuah bangsa kepulauan, yang menurut anggapan Plato berlokasi di tengah Samudra Atlantik, dihuni oleh suatu ras manusia yang mulia dan sangat kuat (noble and powerfull). Rakyat tanah air tersebut sangat makmur sejahtera yang sangat bersyukur atas segala karunia sumber daya alam yang diketemukan di seantero kepulauan mereka. Kepulauan itu adalah sebuah pusat perdagangan dan kegiatan komersial. Pemerintahan negeri itu memperjalankan para penduduknya untuk memperdagangkan hasil buminya sampai ke Afrika dan Eropa.


Negara Atlantis.


Menurut cerita Plato Atlantis adalah wilayahnya Poseidon, dewa laut. Ketika Poseidon jatuh cinta kepada wanita yang bisa mati, Cleito, dia membuat sebuah sumur di puncak bukit di tengah-tengah pulau dan membuat kanal-kanal air berbentuk lingkaran cincin di sekitar sumur tersebut untuk melindungi istrinya itu. Cleito melahirkan lima pasang anak kembar laki-laki yang menjadi penguasa pertama Atlantis. Negeri pulau itu dibagi-bagi di antara para saudara laki-lakinya. Yang tertua, Atlas, raja pertama Atlantis, diberi kontrol atas pusat bukit dan area sekitarnya.

Pada puncak tengah bukit, untuk menghormati Poseidon, sebuah bangunan candi, kuil atau istana dibangun yang menempatkan sebuah patung emas raksasa dari Poseidon yang mengendarai sebuat kereta yang ditarik kuda terbang. Di sinilah para penguasa Atlantis biasa mendiskusikan hukum, menentapkan keputusan dan memberi penghormatan kepada Poseidon.

Untuk memfasilitasi perjalanan dan perdagangan, sebuah kanal (saluran) air dibuat memotong cincin-cincin kanal air yang melingkari wilayah, sehingga terbentuk jalan air sepanjang 9 km ke arah selatan menuju laut.

Kota Atlantis menduduki tempat pada wilayah luar lingkaran cincin air, menyebar di sepanjang dataran melingkar sepanjang 17 km. Inilah tempat yang padat penduduk di mana mayoritas pendudukanya tinggal.

Di belakang kota terhampar seuatu lahan subur sepanjang 530 km dan selebar 190 km yang dikitari oleh kanal air lain yang digunakan untuk memngumpulkan air dari sungai-sungai dan aliran air pengunungan. Iklimnya memungkinkan mereka dapat 2 kali panenan dalam setahun. Pada saat musim penghujan, lahan disirami air hujan dan pada musim panas/kemarau, lahan diairi irigasi dari kanal-kanal air.

Mengitari dataran di sebelah utaranya ada pengunungan yang menjulang tinggi ke langit. Pedesaaan, danau-danau dan sungai dan meadow menandai titik-titik pengunungan.

Disamping hasil panenan, kepulauan besar tersebut menyediakan semua jenis tanaman herbal, buah-buahan dan kacang-kacangan, dan sejumlah hewan termasuk gajah, yang memenuhi kepulauan.

Dari generasi ke genarasi orang-orang Atlantean hidup dengan sederhana, hidup penuh dengan kebaikan. Namun lambat-laun meerka mulai berubah. Keserakahan dan kekuasaan mulai mengkorupsi mereka. Ketika Maha Dewa Zeus melihat ketidakdapatmatian (immortality) para penduduk Atlantis, maka Dia mengumpulkan para dewa lainnya untuk menentukan sebuah hukuman yang layak bagi mereka.

Segera, dalam sebuah bencana besar mereka lenyap. Kepulauan Atlantis, penduduknya, dan ingatan-ingatanya musnah tersapu lautan.

Replika Situs Atlantis telah diketemukan di Sumatra? 


Beberapa orang yang penulis temukan secara tak sengaja, telah mengaku menemukan jejak-jejak situs yang diduga kemungkinan besar adalah replika situs Atlantis. Menurut pengakuan mereka, mereka terdorong oleh ilham dan mimpi serta cerita-cerita tambo, mitos dan legenda yang diwarisi dari leluhur mereka tentang cerita istana Dhamna yang hilang di tengah pulau Sumatra, di sekitar perbatasan Propinsi Sumatra Barat, Jambi dan Riau.

Sekitar 6 bulan mereka melakukan riset dan ekspedisi ke lokasi, dengan partisipasi seorang arkeolog dan panduan beberapa tokoh masyarakat adat setempat mereka menemukannya di tengah bukit dan hutan yang sukar dijangkau manusia. Di tempat yang sekarang dikenal sebagai Lubuk Jambi itu konon telah diketemukan oleh masyarakat setempat berbagai artefak dan sisa bangunan peninggalan kerajaan Kandis, yang diduga Atlantis itu di dekat sungai Kuantan Singgigi. Beberapa foto dirimkan oleh mereka kepada penulis sebagai bukti hasil ekspedisi mereka. Namun demikian, menurut mereka, tempat tersebut dijaga dan dipelihara, selain oleh masyarakat adat setempat juga oleh kekuatan makluk supra natural tertentu yang menjaganya ribuan tahun. Bahkan menurut mereka, jarum kompas yang mereka bawa ke tempat itu pun tidak bisa berfungsi lagi, karena pengaruh kutub magnetis bumi pun menjadi hilang di sana. Salah satu dari tim ekspedisi itu mengaku melihat dan merasakan kehadiran semacam siluman macan/harimau yang menjaga tempat itu. Wallahu ‘alam bi shawab.

Namun terlepas dari benar tidaknya pengakuan mereka, ada juga beberapa pihak yang mengaitkan diketemukannya bukti-bukti situs Atlantis sebagai peradaban umat manusia pertama dengan sejarah kehidupan Nabi Adam As dan anak-cucu keturunannya, dengan prediksi kebangkitan kembali agama-agama dan spiritualisme dunia menjelang akhir zaman. Ini konon terhubung dengan persiapan kedatangan Imam Mahdi dan mesianisme kebangkitan kembali Nabi Isa al-Masih, sebelum kiamat tiba.

Inilah yang mungkin masih menjadi pertanyaan tersirat ES Ito yang menulis novel Negara Kelima. Bagaimanakah revolusi menuju negara ke lima itu mendapatkan jalannya?
Nusantara, Indonesia sekarang, menurut Tato Sugiarto, telah dipersiapkan Tuhan YME sebagai negeri tempat persemaian dan tumbuh kembangnya kearifan ilahiah dan shopia perennialis yang berevolusi melalui berbagai agama dunia dan kearifan-kearifan lokal nusantara, yang merefleksikan falsafah Bhineka Tunggal Ika.

Menurut pria kelahiran 1937, mantan tea taster dan market analisis PT perkebunan I – IX Sumatara Utara – Aceh, walau terjadi paradoks –di balik krisis lingklungan seiring dengan krisis peradaban global, mengutip Alvin Tofler, terjadi pula gejala-gejala kebangkitan agama-agama, yang paralel dengan kebangkitan spiritualisme menurut John Naisbit. Ini menutut Tato, adalah pertanda masa transisi proses kebangkitan umat manusia menyosong tranformasi menuju “Kebangkitan Peradaban Mondial Millenium Ketiga”.

Gejala ini juga terlihat jelas di kawasan Nusantara ini, dan pesan-pesannya pun dipahami para ahli makrifat yang waskita. Walau fenomena ini tampil paradoksal, namun sesungguhnya bersifat komplementer, merupakan survival instinct manusia. Ini merupakan peringatan dini dalam mengatisipasi apocaliptic threats yang akan hadir di masa datang. Prophetic intelegence yang relevan dengan itu berabad-abad yang lampau sebenarnya telah diisyaratkan dalam Injil dan al-Qur’an sebagai nubuat (ramalan) Kebangkitan Isa al-Masih (QS 3: 55, QS 19:33) ataupun yang dalam pagelaran wayang purwo ditampilkan sebagai mitos “Kresna Gugah”.

Tato Sugiarto menjelaskan: Wayang Purwo warisan Wali Songo adalah “tontonan dan tuntunan” adiluhung yang cocok dengan semua agama. Tampil sebagai seni budaya yang sarat dengan muatan aneka ilmu pengetahuan.

Medium pendidikan massal ini dikemas sebagai total arts, yang kehadirannya mewakili pagelaran seni makrifat atau meditative arts. Kini wayang purwo telah melampaui batas wilayah Nusantara, lalu diakui sebagai warisan dunia, yaitu sejak dinyatakan oleh UNESCO (PBB) sebagai “A Masterpiece of the Oral and Intangible heritage of Humanity” pada tgl 7 November 2003 di Paris Perancis.

Dalam ungkapan seorang aktifis urban sufism di Jakarta, Rani Angraini;
“karena di sinilah peradaban luhur pertama umat manusia berawal, maka di sini pula peradaban umat manusia bangkit kembali dan berakhir di penghujung zaman.” Wallahu ‘Alam bi shawab.
5 Xmagazine: Mei 2012 Tari Piring Photo: http://nationalgeographic.co.id/ Tari Piring atau dalam bahasa Minangkabau...
< >